- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
- GMPD Banjarbaru: Kejati Kalsel Jangan Pandang Bulu Soal Kasus Dugaan Korupsi Kepala BKSDA
- Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel
OPINI | Batubara: BArang TUhan BAgi RAta

Keterangan Gambar : Foto ilustrasi tambang manual (tangkapan layar).
Oleh: Noorhalis Majid
Dalam berbagai kesempatan Kisworo, mantan Direkrut Walhi Kalsel mengatakan, batubara itu barang Tuhan, mestinya bagi rata. Bukan untuk kekayaan satu orang saja, atau segelintir orang yang mengusahakannya.
Baca Lainnya :
- Polres Kotabaru Musnahkan 50,27 Gram Sabu Hasil Operasi Rutin0
- Polda Kalsel Berhasil Ungkap Kasus Penganiayaan dan Pembunuhan Serta Tangkap 26 Tersangka0
Semua orang kaya di negeri ini, kekayaannya didapat dari usaha batubara. Hanya dengan cara mengambil dan langsung menjual. Tidak ada pengolahan semisal menjadi energi lalu energinya dijual. Semuanya hanya jual mentah, seperti penggali pasir atau tanah urug, yang mengambil tanah di satu tempat dan menjualnya di tempat lain. Tidak ada proses pengolahan. Paling canggih hanya proses pemilahan, selebihnya jual mentah seadanya.
Pointnya bukan tentang proses pengolahan, tapi tentang barang Tuhan yang mestinya dibagi rata, agar terbangun kesejahteraan bersama.
Bagaimana cara agar terbagi rata? Jangan lagi diusahakan oleh orang per orang. Mesti dikuasai dan diusahakan oleh negara, sebagaimana bunyi pasal 33 UUD 1945, bahwa “bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
Kalau masih dikuasai oleh orang perorang, sampai kiamat tidak berdampak pada kesejahteraan bersama. Paling-paling yang menjadi kaya hanya dua tiga orang, atau paling banter se Indonesia raya ini hanya 200 orang. Selebihnya rakyat Indonesia tetap misikin dan akan menanggung resiko kerusakan sumber daya alam. Andrinof Chaniago, dalam satu tulisannya dengan sinis mengatakan, pengelolaan barubara sekarang ini rasa kolonial, tidak ada ubahnya seperti masa penjajahan.
Dengan cara seperti apa mestinya negara menguasai pengelolaan batubara? Diusahakan melalui BUMN. Tidak boleh lagi diusahakan orang per orang.
Kalau semua pertambangan batubara pengeloalaannya diambil alih BUMN, lantas BUMN tatakelolanya diperbaiki secara jujur, transparan dan akuntabel, maka kesejahteraan bersama tersebut dapat dibagi rata.
Negara sangat mungkin mengambil alih semua pertambangan batubara agar dikelola oleh BUMN, sehingga negara menjadi kuat dan berdaya. Tidak dikendali oleh orang-orang yang memiliki kekayaan tajir melintir selangit, akhirnya mendikte negara sesuka hati, sebab negaranya sendiri miskin, kurus tidak berdaya – tidak punya kemampuan mensejahteraan warganya.
Karenanya, sebelum mengambil alih tanah-tanah yang tidak terkelola oleh warga lebih dari 2 tahun, lebih prioritas mengambil alih pengelolaan batubara yang salah urus, agar segera dikelola BUMN, supaya bisa dibagi rata untuk kesejahteraan bersama. (nm)
Baca Lainnya :
- 28 Rumah Ludes Dijilat Sijago Merah Di Kotabaru, Kerugian Capai Milyaran Rupiah0
- Gerak Cepat, AKBP Doli M Tanjung Turunkan Personil Cek TKP Kebakaran Di Desa Gunung Sari0














