- Dispora Kalsel Seleksi Wirausaha Muda Berprestasi, Dorong UMKM Berbasis Kearifan Lokal
- Duta Pepelingasih Kalsel 2026 Resmi Terpilih, Siap Jadi Agen Perubahan Pelestarian Lingkungan
- Perkuat Sektor Perkebunan dan Peternakan Daerah, Disbunnak Kalsel Dukung Program KDMP
- Pemprov Kalsel Perkuat Sinergi Lintas Sektoral untuk Tingkatkan Kerukunan Umat Beragama
- Diskominfo Kalsel Sosialisasikan Aplikasi E-Absen dan E-Performance kepada Admin SMA dan SMK
- Dispora Kalsel Tingkatkan Profesionalisme Wasit dan Juri Tiga Cabor Melalui Pelatihan Bersertifikat
- Gubernur H. Muhidin Sampaikan Rancangan KUPA dan PPAS di Rapat Paripurna DPRD Kalsel
- HUT ke-76, IGTKI-PGRI Kotabaru Kukuhkan Pengurus Baru
- 16 Tim Pelajar Putri Rebut juara diPERWOSI CUP I 2026
- Pemkab Kotabaru Hadiri Sosialisasi ASN Pra Pensiun dan Silaturahmi Pengajian Nasabah Pensiunan BSI
Ambin Demokrasi | Fantasi Profesor dan Pertaruhan Integritas
1.jpg)
Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Entah benar atau tidak, berita pencabutan 17 profesor merupakan tsunami susulan yang menimpa Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Setelah sebelumnya pencopotan 11 profesor, meninggalkan duka lara, rasa malu yang belum pulih.
Baca Lainnya :
- Sekda Kotabaru Hadiri Penyerahan Pasukan Kodam VI/Mulawarman ke Kodam XXII/Tambun Bungai0
- Dorong Budaya Literasi, Pemkab Kotabaru Gelar Pemilihan Duta Baca0
Kalau berita tersebut tidak benar, sesuai bantahan yang sudah disampaikan. Sebaiknya dilanjutkan dengan tuntutan dan aksi protes. Karena hal ini menyangkut harga diri, martabat dan kehormatan ribuan orang yang emosionalnya terhubung dengan ULM.
Namun kalau benar, segera dibuka sejelas-jelasnya, kenapa sampai terjadi? Apakah disebabkan kesalahan manusia atau sistem? Kalau benar-benar karena manusianya, beri sanksi setimpal dan segera lakukan pembenahan, agar tidak terulang kembali dan tidak berdampak pada runtuhnya maruah serta harga diri ULM itu sendiri. Ini tidak sekedar harga diri seorang rektor, tapi sudah harga diri Kalimantan Selatan.
Harus dipahami, kasus ini bukanlah soal sederhana. Di dalamnya ada integritas yang sedang ditercabik-cabik. Kalau benar profesor tersebut palsu dengan berbagai bentuk kecurangan yang dituduhkan, menggambarkan krisis integritas yang sangat parah. Apa gunanya kampus tanpa integritas? Bukankah kampus tempat menyemai dan memupuk integritas? Kampus adalah laboratorium kehidupan ideal, bekal mahasiswa mengarungi kehidupan nyata.
Tidak dapat dipungkiri. Sejak profesor mendapat tunjangan melebihi gaji pokok yang didapatkan. Sejak deretan gelar profoser menjadi syarat utama akreditasi sebuah kampus. Ketika itulah profesor menjadi fantasi – menjadi khayalan. Kampus merasa bergengsi karena memiliki sederet profesor. Kesejahteraan meningkat, kampus pun jadi bergengsi. Walau pun profesornya tidak pernah menulis buku, namanya tidak menjadi referensi dan sumber ilmu.
Profesor tidak lagi menjadi gelar akademik dengan mahkota keilmuan tertinggi. Tereduksi sekedar level kepangkatan untuk kesejahteraan. Tidak ada lagi ilmu, pengetahuan dan segala yang membuatnya agung.
Profesor yang sekedar memenuhi fantasi, sangat mungkin menempuh jalan pintas yang culas. Mau membayar, sebab yakin ongkos yang dikeluarkan kelak akan balik modal.
Tanpa bermaksud menggurui, sebaiknya dibentuk tim pemulihan kehormatan ULM. Apapun yang terjadi, tim ini bekerja secara transparan mengusut tuntas segala kebenaran dan ketidak benaran terkait persoalan profesor. Ada baiknya anggota tim merupakan orang-orang independent yang emosi dan jiwanya masih terhubung dengan ULM. Diharapkan hasil kerja tim, dapat memperjelas dan merekomendasikan apa dan bagaimana yang harus dilakukan ULM, termasuk sanksi dan koreksi sistem. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250














