- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
Wabup Kotabaru: Wisata Hutan Meranti Akan Maju Kalau Penduduknya Ramah Terhadap Tamu
1.jpg)
Keterangan Gambar : Wabup Kotabaru saat du Hutan Meranti Kotabaru, Minggu (30/11/2025).
KOTABARU, Borneopos.com - Puncak acara penutupan Meranti Putih Perform Art Festival (MP2AF) 2025 di Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, berlangsung meriah dan penuh keriuhan, Minggu (30/11) siang.
Baca Lainnya :
- Obyek Wisata Hutan Meranti Jadi Tempat Acara Grebeg Kampung0
- Kontingen Kalsel Raih Peringkat 6 Nasional di Kejurnas Tenis Meja 20250
Ratusan warga yang hadir tumpah ruah di kawasan Wisata Hutan Meranti, menanti momen sakral sekaligus paling dinanti berebut hasil bumi Grebek Kampung.
Masyarakat Desa Sebelimbingan terlihat berbondong-bondong membawa hasil panen terbaik mereka, mulai dari aneka sayuran segar, singkong, kacang-kacangan, hingga buah-buahan lokal. Semua dikumpulkan dalam tumpeng hasil bumi raksasa, wujud nyata rasa syukur.
Begitu acara resmi ditutup, ratusan tangan langsung bergerak cepat. Dengan suasana gembira, tua dan muda saling berebut mendapatkan berkat hasil bumi tersebut, yang dipercaya membawa berkah.
Momen rebutan hasil bumi ini menjadi pemandangan yang paling menarik perhatian pengunjung.
Kholil, Koordinator Lapangan sekaligus Fasilitator Grebek Kampung, menjelaskan bahwa tradisi ini adalah warisan lama, dulu dikenal sebagai Grebeg Suro, yang kembali dihidupkan melalui kolaborasi dengan event Meranti.
"Tujuan utama Grebek Kampung adalah untuk menyampaikan dan mewujudkan kebersamaan," tegas Kholil.
Ia menambahkan, esensi dari kegiatan ini adalah menguatkan kembali semangat gotong royong yang mulai memudar, di mana warga bahu-membahu mencari kayu dan daun untuk keperluan memasak.
"Ini adalah rasa syukur kami. Makanya kami keluarkan semua hasil bumi, yang bisa dinikmati bersama-sama," jelasnya. Kholil menyebut, yang paling unik adalah penyajian makna-makna di dalam tumpeng, menggunakan bahasa Jawa kuno, yang memancing keingintahuan para tamu.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, yang hadir dalam penutupan, memberikan apresiasi tinggi terhadap tradisi ini dan menyebutnya sebagai warisan lokal yang kaya nilai sejarah, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat.
Wabup menantang warga agar kegiatan Grebek Kampung tahun depan ditingkatkan skalanya.
"Kalau bisa tahun depan lebih besar lagi. Di sini kan ada tiga desa, ya? Megasari, Sebelimbingan, Gunung Sari. Wah, jadi satu, ramai-ramai lebih besar lagi nanti acaranya," seru Wabup.
Namun, ia mengingatkan bahwa Grebek Kampung dan Wisata Hutan Meranti hanya akan maju jika masyarakatnya ramah.
"Mari hormati, hargai para tamu yang datang di sini, karena wisata yang maju ketika orang-orangnya juga ramah menerima para tamu dari luar," tegas Wabup. (ril/adv)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250













