- Pemkab Kotabaru Gelar Pra Musrenbang PPPS Tahun 2026
- Prabowo Perintahkan Percepatan Waste to Energy, Sampah Jadi Energi di Kota-Kota Besar
- Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Optimalkan SDA untuk Kemandirian Nasional
- Ribuan SPPG Disetop Sementara, Pengelola Diminta Perbaiki Pelayanan
- Kasus Kuota Haji, KPK Tahan Stafsus Eks Menag
- Wali Kota Lisa: Setiap Jam 10 Pagi Lagu Indonesia Raya Dikumandangkan, Hentikan Aktivitas Sejenak!
- 1.251 Dapur MBG Disanksi, Neng Eem Minta Akreditasi Tak Sekadar Formalitas
- Pemerintah Batalkan Wacana PJJ, Pembelajaran Tatap Muka Tetap Paling Optimal
- Kapolda Kalsel Cek Kesiapan Pengamanan, Rantis Randurlap, dan Dapur Umum Jelang Haul Datu Kalampayan
- CSR SCG Dampingi dan Kembangkan UMKM Dapur Nany Produksi Putu Ayu
Telantarkan Bayinya, Sepasang Kekasih Di Tangkap Tim Polresta Samarinda

Keterangan Gambar : Pasangan kekasih yang menelantarkan bayinya 8 Juli 2024 lalu.
Borneopos.com, Samarinda - Polresta Samarinda menetapkan sepasang kekasih berinisial AM (24) dan DM (24) sebagai tersangka dalam kasus penelantaran bayi yang terjadi pada 8 Juli 2024.
Baca Lainnya :
- Polresta Samarinda Lakukan Pengamanan Kampanye Salah Satu Calon Gubernur0
- Rakor Gakkumdu Kota Samarinda, Wakasat Reskrim Polresta Samarinda Jadi Nara Sumber0
Dalam konferensi pers yang digelar, Kepala Polresta Samarinda, Komisaris Besar Polisi Ary Fadli, menjelaskan kronologi kasus tersebut dan menyebut bahwa kedua tersangka dikenakan pasal 76B Undang-undang No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 305 KUHP, dengan ancaman hukuman hingga 5 tahun penjara.
Kasus ini mencuat setelah IK (27), warga Jalan Kehewanan, melaporkan penemuan bayi laki-laki berusia tiga hari yang terbungkus selimut di kursi halaman rumahnya. Saat itu, diduga bayi tersebut sengaja ditinggalkan oleh orang tuanya.
Setelah serangkaian penyelidikan yang dilakukan oleh tim gabungan Polsek Samarinda Kota, Polresta Samarinda, dan Jatanras Polda Kaltim, polisi berhasil menangkap kedua orang tua bayi tersebut, dimana AM ditangkap di Samarinda pada 16 September 2024, sementara DM ditangkap di Kabupaten Paser sehari kemudian.

“Yang lebih mengejutkan, orang yang pertama kali menemukan bayi tersebut ternyata sudah mengetahui atau bekerja sama dengan orang tua bayi untuk rangkaian penelantaran ini,” ungkap Kepala Polresta Samarinda, Kamis (26/9/2024).
Dijelaskan, kedua tersangka, AM dan DM, adalah sepasang kekasih. DM yang hamil dan melahirkan bayi tersebut kemudian mencari orang yang berminat untuk mengadopsi anaknya melalui grup di media sosial. IK, yang tertarik mengadopsi, kemudian menjemput bayi tersebut di rumah sakit pada 5 Juli 2024.
Namun, masalah muncul ketika IK membawa bayi itu ke rumah tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan suaminya, yang ternyata tidak setuju untuk mengadopsi anak. Dalam kepanikannya, IK kemudian membuat laporan palsu bahwa bayi tersebut ditemukan di halaman rumahnya.
“Saat ini IK masih berstatus sebagai saksi, dan kami tidak menutup kemungkinan adanya keputusan keadilan restoratif (Restorative Justice) karena tidak ada yang dirugikan secara langsung,” ujarnya.
Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa lima orang saksi dan mengamankan barang bukti, termasuk buku kesehatan bayi, gelang bayi, serta rekam medis dari rumah sakit tempat bayi dilahirkan. Bayi tersebut kini berada dalam perawatan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.
Dari keterangan Ary Fadli juga menegaskan bahwa fokus utama polisi dalam menangani kasus ini adalah memastikan tumbuh kembang bayi berjalan dengan baik. Polisi akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai dengan kepentingan terbaik bagi bayi tersebut. (rls/saiful)


Baca Lainnya :
- Pemkot Samarinda Gelar Acara Purna Bakti Polisi Cilik Angkatan I Tahun 20240
- Polresta Samarinda Lakukan Pengamanan Kampanye Salah Satu Calon Gubernur0
Berita KALTIM














