- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
- GMPD Banjarbaru: Kejati Kalsel Jangan Pandang Bulu Soal Kasus Dugaan Korupsi Kepala BKSDA
- Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel
OPINI | PDAM dan Nasib Anak Bawang PT PALD

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneo Pos -- Cara mudah lagi sederhana mengembalikan pungutan IPAL yang terlanjur dibebankan pada tagihan PDAM adalah melalui PDAM itu sendiri, yaitu mengkonversinya dalam bentuk pemotongan tagihan PDAM.
Baca Lainnya :
Mudah dilakukan, bila PDAMnya sendiri bersedia membantu PT PALD. Sebaliknya kalau enggan membantu, berarti harus dikembalikan secara konvensional atau manual dengan menunggu warga mengambil uangnya yang tidak seberapa tersebut. Cara ini, paling maksimal dalam setahun hanya mampu dikembalikan senilai Rp.1 milyar, padahal dana tersisa yang harus dikembalikan Rp3,9 milyar. Berarti perlu waktu setidaknya 4 tahun untuk dapat mengembalikan seluruh uang warga.
Kalau PDAM tidak bersedia memberikan bantuan, cara ringkas yang bisa ditempuh adalah dengan memaksa, melalui perintah atau intruksi walikota kepada direktur PDAM untuk membantu PT PALD mengembalikan uang warga yang terlanjur dipungut.
Perintah walikota bagi direktur PDAM tentu saja wajib dilaksanakan, sebab PDAM dan PT PALD dalam kedudukannya setara, sama-sama Perusahaan Daerah yang harus mendapat perhatian seimbang. Tidak ada anak emas dan anak bawang.
PDAM sendiri tidak dapat lepas tangan, apalagi tidak peduli. Harus disadari, bahwa 80% dari air yang disalurkan PDAM ke rumah warga atau pelanggan, menjadi air limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Selama ini PDAM memang tidak peduli pada limbah yang diproduksinya, dan dibuang sekehendak hati melalui perilaku warga sebagai pelanggan, akhirnya mencemari air permukaan dan lingkungan secara umum. Idealnya, ada uang yang disisihkan dari iuran PDAM untuk disubsidikan kepada PT PALD sebagai dana perbaikan lingkungan akibat limbah PDAM.
Bahkan, kalau PDAM mau menyisihkan sebagian dari keuntungannya, misalnya 15% atau 20% dari besaran tarif yang dikenakan, maka PT PALD akan terhindar dari krisis keuangan yang membuatnya terancam tutup.
Lagi-lagi semua itu bisa terjadi, apabila perlakuan dan perhatian walikota sebagai pengambil kebijakan, setara, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan warga serta lingkungan hidup.
Semoga walikota baru, memberi harapan baru bagi perbaikan pelayanan lingkungan hidup melalui PT PALD, yang mampu berkerja secara professional, tidak lagi menjadi anak bawang. (red/nm)
Baca Lainnya :
- OPINI | Kesetaraan Pejabat dan Warga, Ala Swedia0
- Sungai Dan Sampah, Jadi Prioritas 100 Hari Kerja Walikota dan Wawali Banjarmasin Terpilih0














