- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
- GMPD Banjarbaru: Kejati Kalsel Jangan Pandang Bulu Soal Kasus Dugaan Korupsi Kepala BKSDA
- Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel
- Kendalikan Inflasi, Pemkab Kotabaru Gelar Gerakan Pangan Murah
- Pemkab Kotabaru Peringati Hari Santri Nasional 2026, Teguhkan Peran Santri Menuju Indonesia Emas
Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon

Keterangan Gambar : Warga saijaan saat membeli air bersih, Selasa (27/10/2026).
Kotabaru, Borneopos.com - Kemarau yang berlangsung sekitar enam bulan membuat warga Kabupaten Kotabaru kesulitan mendapatkan air bersih. Berkurangnya sumber air, ditambah aliran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tidak mengalir secara rutin selama sekitar empat bulan terakhir, membuat masyarakat harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Lainnya :
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi0
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB0
Dina, salah seorang warga, mengungkapkan bahwa kondisi kemarau membuat masyarakat harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan air bersih. Warga terpaksa menghemat penggunaan air dan mencari sumber air yang masih tersedia. Selain membeli air dari penjual keliling, warga juga dapat memanfaatkan bantuan air bersih gratis yang disalurkan kepada masyarakat apabila tersedia.
“Sudah sekitar enam bulan kada hujan, jadi sumber air mulai berkurang. Kami harus mencari cara supaya kebutuhan air di rumah tetap terpenuhi. Kalau air susah didapat, terpaksa mencari sumber air lain. Yang penting ada air untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Dina, Selasa (27/10/2026).
Sementara itu, Raihan, warga lainnya, mengatakan bahwa aliran PDAM yang tidak mengalir secara rutin selama sekitar empat bulan terakhir turut menyulitkan masyarakat. Ketika air tidak mengalir, warga terpaksa membeli air dari penjual keliling atau mencari sumber air alternatif. Sebagian warga juga harus mengantre dan mengangkut air menggunakan sepeda motor maupun gerobak.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Raihan menyebutkan bahwa harga air satu tong berkapasitas sekitar 1.200 liter berkisar Rp70.000 hingga Rp120.000. Meski demikian, bantuan air bersih gratis yang disalurkan kepada warga menjadi salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah kesulitan air.
“Kalau membeli air, harganya sekitar Rp70 ribu sampai Rp120 ribu untuk satu tong. Kalau harus membeli berkali-kali, tentu lumayan jua pengeluarannya. Tapi air ini kebutuhan utama, jadi tetap harus dibeli,” kata Raihan.
Dina berharap pemerintah dapat segera mencari solusi untuk mengatasi kesulitan air bersih yang dialami warga, terutama selama musim kemarau. Ia juga berharap bantuan air bersih dapat diperbanyak dan disalurkan secara merata kepada masyarakat yang membutuhkan agar dapat meringankan beban warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa segera mencari solusi untuk mengatasi kesulitan air bersih yang kami alami. Kami juga berharap bantuan air bersih bisa lebih sering disalurkan dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan, supaya masyarakat tidak terlalu kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” harap Dina. (red/ril)

Baca Lainnya :
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0
- Jembatan Pulau Laut Dilanjut, Anggaran 2024 APBD Kalsel 295 M Dan Kotabaru 100 M, Pelaksana Asri-Pra0










