- Suwanti Janjikan RDP ke Pekerja Tambang Soal PT. Hilcon Yang Belum Bayar Gaji
- PT. Hilcon Tak Bayar Gaji Karyawan, Puluhan Pekerja Mengadu ke DPRD Kotabaru
- Bupati Kotabaru Hadiri Pelantikan Pengurus KONI Masa Tugas 2026–2030
- Bupati H.M Rusli Lantik Ahmad Romansa Jadi Kepala Disdikbud Kotabaru
- OPINI Ambin Demokrasi | CeO Di Bali, Kada Mambuang Taruh
- WALHI Kalsel | Krisis Sungai Barito Bukan Takdir Ilahi, Melainkan Rakusnya Oligarki
- Pesan Menkomdigi Pada HPN 2026, Pers Yang kredibel Dan Independen Bukan pilihan Tapi Kebutuhan
- Perjuangan Wali Kota Lisa Gaungkan Cempaka Sebagai Living Museum, Menteri Fadli Zon Siap Dukung
- Gubernur Muhidin Lantik 292 Pejabat, Evaluasi 6 Bulan Jika kurang Baik Non Job
- Tiga Kampus Bumi Saijaan Apresiasi Terobosan Pendidikan Bupati Rusli
OPINI - Negeri Yang Stres Lagi Depresi?
.jpg)
Keterangan Gambar : ?Oleh: Noorhalis Majid, Penulis dan pengamat kebijakan publik Kalsel.
Oleh: Noorhalis Majid
Sudah dengar cerita tragis remaja 18 tahun di Deli Serdang, dibakar hidup-hidup hanya karena mencuri 2 karung ubi? Mencuri memang tidak bolah, tapi kenapa dihakimi demikian sadis? Kenapa yang mencuri trilyunan uang negara tidak diperlakukan sesadis itu?
Baca Lainnya :
- Pemkab Kotabaru Gelar Sosialisasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial0
- Jembatan Gapura Saijaan Di Kampung Nelayan Kotabaru, Tongkrongan Anak Muda Melepas Penat0
Hanya orang miskin ektrim yang akan mencuri 2 karung ubi. Boleh jadi karena terdesak lapar. Sebab mencuri 2 karung ubi, tidak akan membuat kaya.
Pertanda apa ini? Apakah negeri ini sedang stres lagi depresi? Kenapa sampai ada yang miskin ektrim hingga harus mencuri? Dimana tugas negara yang berjanji memelihara orang miskin? Untuk siapa kekayaan alam yang telah dieksploitasi secara gegap gempita itu? Hilangkah kedermawanan sosial sesama warga, sampai tega membakar hidup-hidup saudaranya yang mencuri karena miskin?
Di lain sisi kita juga menyaksikan, pemerintah yang pongah menaikkan pajak dan retribusi sesuka hati. Setelah pajak dan retribusi warga dipugut, lantas hasilnya dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak penting. Bahkan untuk berpoya-poya dan dikorupsi.
Keberadaan pemerintahan, ternyata bukan untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru menciptakan kesengsaraan dan penderitaan warga.
Di tengah sulitnya warga mencari penghidupan, bukan justru dibantu dan difasilitasi, tapi malah dibebani dengan kenaikan pajak dan retribusi yang berlapis-lapis.
Warga miskin berjibaku dengan kehidupan yang penuh beban, tapi pejabat pemerintahan asyik main tik tok, mabuk Instagram, naik mobil mewah, hidup berkecukupan dengan fasilitas negara.
Apakah ini buah dari Pemilu yang manipulatif? Dimana kepala daerah yang terpilih bukan saja tidak pintar dan tidak kreatif, tapi juga tidak peduli, tidak punya sensitivitas, kepekaan dan keberpihakan pada warga tumpul. Yang terpilih orang-orang pongah - sombong, yang menakar demokrasi hanya dari kemampuan menyuap warga miskin saat Pemilu. Setelah terpilih bukannya bekerja untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru membebani warga.
Tulisan pendek ini lebih banyak mengajukan pertanyaan, mudah-mudahan dengan pertanyaan itu mampu memperbaiki segala niat, terutama niat dalam bernegara, berpemerintahan, bahwa sesungguhnya negara dan pemerintahan ini dibentuk dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesejahteraan umum. Bukan kesejahteraan orang perorang, apalagi hanya untuk para pejabatnya saja. (nm)
Baca Lainnya :
- Lagi, Polres Kotabaru Bekuk Penjual Zenith0
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
Berita KALSEL



.jpg)
.jpg)








