- Karhutla Dekati Ring 1 Bandara Syamsudin Noor, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api
- BPKAD Kotabaru Gelar Sosialisasi Perda Tentang Pengelolaan BMD dan Bimtek E-BMD
- Pemprov Kalsel dan MUI Bersinergi, Dorong Penguatan Kerukunan Umat di Banua
- Api Masih Membara di Bawah Gambut, Muhidin Bagi Tugas Satgas Agar Lebih Terarah
- Disperkim Kalsel Gandeng Perbankan Cari Skema Pembiayaan Rumah Khusus Korban Bencana
- Indocement Tarjun Salurkan Bantuan Air Bersih di Tengah Kemarau Extrim
- Wisata Hutan Mangrove Desa Langadai, Benteng Penjaga Abrasi
- Bupati Kotabaru Dorong Penguatan Sinyal dan Pembangunan BTS di Wilayah Blankspot
- Layanan Bercerita Anak Dispersip Kotabaru Hadir Di Pulau Laut Tengah
- Pemkab Kotabaru Launching Gebyar Panutan Pajak 2026
Opini | Catatan WALHI Kalsel atas Dilantiknya Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat

Keterangan Gambar : Ilustrasi
Kalsel, Borneopos.com - Terlantiknya Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif Faisol menjadi momentum penting yang tidak boleh sekadar menjadi pergantian administratif belaka. Publik, khususnya masyarakat yang selama ini hidup dalam bayang-bayang krisis ekologis, menunggu langkah nyata dan bukan sekadar janji.
Baca Lainnya :
- Bupati Kotabaru Pantau Perkembangan Pembangunan Jembatan Pulau Laut Berbiaya Rp. 6,1 Triliun0
- Kembangkan Kawasan Baru, Bupati Kotabaru Cek Lahan Pemda 2 Ribu Hektar di Pulau Laut Kepulauan0
Selama kepemimpinan sebelumnya, berbagai persoalan lingkungan hidup tidak kunjung mendapatkan jawaban yang memadai. Sengkarut persoalan di sektor industri ekstraktif, eksploitasi kawasan hutan, hingga ekspansi perkebunan kelapa sawit terus berlangsung tanpa kontrol yang tegas.
Negara terkesan abai, sementara korporasi semakin leluasa memperluas dampak kerusakan.
Walhi Kalsel menilai, persoalan lingkungan di Indonesia bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan krisis sistemik yang telah berlangsung lintas generasi kepemimpinan.
Pergantian presiden dan menteri tidak serta-merta membawa perubahan signifikan. Bahkan, dalam banyak kasus, kondisi lingkungan justru semakin memburuk.
Dampak dari kebijakan yang tidak berpihak pada keselamatan lingkungan ini dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, termasuk di Kalimantan Selatan. Setiap musim hujan, banjir menjadi bencana rutin. Sementara itu, di musim kemarau, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui.
Ini bukan fenomena alam semata, melainkan konsekuensi dari tata kelola lingkungan yang gagal.
Kami menantang Menteri Lingkungan Hidup yang baru, Jumhur Hidayat, untuk berani mengambil langkah tegas dan progresif dalam menyelesaikan persoalan lingkungan yang kian kompleks. Tidak cukup dengan pendekatan normatif, dibutuhkan keberanian politik untuk mengevaluasi secara menyeluruh kebijakan lingkungan, khususnya yang termuat dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang selama ini justru dinilai melemahkan perlindungan lingkungan. Selain itu, Menteri harus mampu menghentikan praktik-praktik eksploitasi yang merusak dan menimbulkan ketimpangan ekologis, sekaligus memastikan penegakan hukum lingkungan yang adil dan tidak tebang pilih.
Di saat yang sama, kami mendorong agar Menteri Lingkungan Hidup turut mendukung serta mengawal pembahasan RUU Keadilan Iklim sebagai instrumen penting untuk menjamin keadilan bagi masyarakat yang terdampak krisis iklim.
Walhi Kalsel memahami bahwa mandat sebagai Menteri Lingkungan Hidup bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk menyelamatkan ruang hidup rakyat dan masa depan generasi mendatang. Tapi, tidak ada perubahan arah kebijakan yang fundamental, maka pergantian ini hanya akan menjadi bagian dari siklus kegagalan yang terus berulang. (red)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250











