- Bupati Kotabaru Hadiri Pelantikan Pengurus KONI Masa Tugas 2026–2030
- Bupati H.M Rusli Lantik Ahmad Romansa Jadi Kepala Disdikbud Kotabaru
- OPINI Ambin Demokrasi | CeO Di Bali, Kada Mambuang Taruh
- WALHI Kalsel | Krisis Sungai Barito Bukan Takdir Ilahi, Melainkan Rakusnya Oligarki
- Pesan Menkomdigi Pada HPN 2026, Pers Yang kredibel Dan Independen Bukan pilihan Tapi Kebutuhan
- Perjuangan Wali Kota Lisa Gaungkan Cempaka Sebagai Living Museum, Menteri Fadli Zon Siap Dukung
- Gubernur Muhidin Lantik 292 Pejabat, Evaluasi 6 Bulan Jika kurang Baik Non Job
- Tiga Kampus Bumi Saijaan Apresiasi Terobosan Pendidikan Bupati Rusli
- Sekjen KNPI Kalsel Andi Rustianto Himbau Pemuda Jauhi Judi Online
- Perkuat Integritas, Pelindo Kotabaru Gandeng Kejaksaan Sosialisasikan Larangan Pungli dan Gratifikas
Harga Gas LPG 3 Kg di Banjarbaru Jauh diatas HET, di Pengecer Pernah Capai Rp.50.000 Tabung

Keterangan Gambar : Gas bersubsidi LPG 3 Kg yang diperuntukkan bagi warga miskin.
Banjarbaru, Borneopos.com - Persoalan kelangkaan dan melambungnya harga gas LPG 3 Kg (melon) bagi masyarakat Kota Banjarbaru, khususnya di desa-desa pinggiran kota dan area perumahan masih merupakan dilema klasik nan pelik.
Baca Lainnya :
- Diskominfo Kalsel Dorong Pemanfaatan Digital dalam Promosikan Layanan Posyandu0
- BPMHP Kalsel Ditetapkan Sebagai Laboratorium Official Control, Wujud Nyata Arahan Gubernur0
Situasi ini menjadi sorotan tajam berbagai pihak, terutama setelah adanya perubahan drastis dalam skema distribusi oleh pemerintah yang mulai berlalu sejak Februari 2025 dan mulai terasa di bulan Juli 2025 lalu, harga mencapai Rp. 50.000 per tabung.
Harga tersebut tentu jauh di atas batas kewajaran dan sangat membebani anggaran rumah tangga masyarakat berpenghasilan rendah yang seharusnya dibantu oleh subsidi tersebut.
Perubahan kebijakan tersebut pada dasarnya melarang agen resmi pertamina untuk menjual gas bersubsidi ini kepada pengecer. Tujuannya adalah memangkas rantai distribusi agar harga jual di tingkat pangkalan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan. Namun, di lapangan, kebijakan ini justru memunculkan efek samping yang memberatkan warga, terutama mereka yang harus memasak setiap hari untuk keluarga ataupun jika memiliki usaha makanan.
Namun, kondisi ini disebut mulai mengalami perbaikan dalam tiga bulan terakhir. Sejumlah pangkalan resmi di Banjarbaru melaporkan bahwa pasokan gas dari distribusi kini datang lebih teratur.
Keteraturan pasokan ini sedikit meredam lonjakan harga ekstrem di tingkat pengecer, meski harganya tetap lebih tinggi dari HET pangkalan.
Salah satu pengecer yang menawarkan harga relatif terjangkau adalah Warung Syifa di Jalan Karang So, Syifa yang sudah hampir 4 tahun berjualan sembako dan gas menetapkan harga jual Rp.27.000 per tabung, lebih murah dibandingkan pengecer yang lain yang rata-rata menjual dengan harga Rp.28.000.
“Kalau saya sih tergantung harga saat saya mengambil di agen. Kalau modalnya tinggi, saya bisa jual tinggi, tapi kalau modalnya murah, saya bisa jual murah. Tapi paling tidak saya lebih murah dari yang lain. Beberapa bulan ini gas datang teratur jadi harga eceran tidak naik drastis.” ungkap Syifa.
Di sisi lain, praktik penjualan di tingkat pangkalan resmi pun masih menuai kritikan. Berdasarkan pantauan Borneopos.com di beberapa pangkalan di Banjarbaru, penjualan harga gas 3Kg tidak menjual sesuai harga yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Rp18.500.
Fakta dilapangan banyak pangkalan yang menjual di atas harga tersebut.
Pangkalan Wira di Karang Anyar 2 contohnya yang menjual dengan harga Rp.20.000, tak jauh berbeda dari HET.
Salah satu ibu rumah tangga, warga Karang Anyar 2, Nindi yang berbincang dengan kru Borneopos.com mengaku tidak mempermasalahkan selisih harga tersebut.
“Kalau disini kami dapat harga Rp20.000. Tapi kami sih tidak terlalu masalah yang penting bisa masak dan itu tergolong masih murah dibandingkan beli eceran.” Ujarnya.
Hal ini mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat akan pasokan, bahkan jika harus membayar sedikit lebih mahal dari HET resmi.
Berbeda dengan pangkalan Akhmad Farid Anfasa di Balitan 1 Loktabat Utara, pangkalan ini tetap menjual harga gas 3 Kg sesuai HET, karena menurut Farid selaku pemilik, dia memang selalu mengikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah.
“Kalau saya sih dari dulu menjual memang harga 18.500 sesuai ketentuan tidak pernah saya naikkan. Dari harga tersebut saya sudah dapat untung juga soalnya. Disini jatah kami hanya 140 tabung tapi yang daftar sangat banyak hampir 200 NIK bahkan dari area Banjarbaru yang jauh dari sini seperti Cempaka dan Trikora. Mungkin karena murah itu, cuman karena kami terbatas juga jadi banyak yang tidak kebagian.” Ungkap Farid

Salah satu warga di area Balitan 1, ibu Eka mengungkapkan sangat terbantu dengan pangkalan yang menjual harga yang murah seperti itu.
"Disini murah dibanding pangkalan lain. Kalau buat ibu rumah tangga seperti saya uang Rp2.000 sangat berharga makanya sangat terbantu jadi ketika gas datang harus cepat-cepatan supaya tidak kehabisan." Tutur beliau.
Melihat fenomena tersebut diharapkan adanya langkah nyata dari pemerintah daerah dan Pertamina untuk melakukan penyeragaman harga disemua pangkalan. Dengan begitu diyakini akan sangat membantu meringankan beban masyarakat.
Tanpa pengawasan yang ketat dan sanksi tegas bagi pangkalan yang membandel, subsidi energi dari negara berpotensi tidak tepat sasaran dan hanya menguntungkan mata rantai distribusi tertentu. (nita)


Baca Lainnya :
- Lagi, Polres Kotabaru Bekuk Penjual Zenith0
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
Berita KALSEL



.jpg)
.jpg)


.jpg)
1.jpg)




