- Kalimantan Dikepung 9.853 Titik Panas Menjelang El NinoJakarta
- Pemkab Kotabaru Peringati Harkitnas ke-118 dan HUT Proklamasi ALRI Divisi IV
- Ubah HGB Menjadi SHM Kini Lebih Mudah dan Terjangkau
- Balik Nama Sertifikat Hibah Orang Tua ke Anak Kini makin Mudah
- Dewan Pers Desak Pembebasan Jurnalis Indonesia yang Ditangkap Militer Israel
- Ketua Tim Pembina Posyandu Kotabaru Buka Rapat Koordinasi Posyandu Tahun 2026
- Mengenal Sososk Rendy Rahmadani, Relawan Literasi Masyarakat Kotabaru
- Peringati Hari Hipertensi, Dinkes Kalsel Ajak Masyarakat Tingkatkan Pola Hidup Sehat
- Tingkatkan Kesadaran Masyarakat, DP3AKB Kalsel Tekankan Pencegahan Stunting Dimulai Sebelum Hamil
- Paripurna DPRD Tanah Bumbu, Andi Rustianto Minta Pemkab Hadirkan Layanan OSS Keliling
Tingginya Angka Pekerja Informal Jadi Tantangan Akurasi Bansos

Keterangan Gambar : Diskusi Redaksi bersama redaktur media nasional di Jakarta, Senin (18/5/2026). (KPM Komdigi)
Nasional, Borneopos.com - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Prof. Arief Anshory Yusuf mengungkapkan persoalan salah sasaran dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia masih cukup tinggi akibat dominasi pekerja informal yang mencapai sekitar 80 persen dari total tenaga kerja nasional.
Baca Lainnya :
- Ekonom Desak BI Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah0
- G2T2B 2026 Hadirkan Kolaborasi Seni, Edukasi, dan Pelestarian Budaya Lokal0
Hal itu disampaikan Arief Anshory Yusuf dalam Diskusi Redaksi (DIKSI) bersama redaktur media nasional di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut Arief, berbeda dengan negara maju yang dapat menilai kelayakan penerima bantuan berdasarkan data penghasilan resmi, Indonesia masih mengandalkan metode proksi untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan masyarakat. “Karena pekerja kita mayoritas informal, penghasilannya tidak tercatat sempurna. Maka yang dilakukan adalah mengestimasi pengeluaran masyarakat berdasarkan aset, kondisi rumah, pendidikan, dan indikator lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, metode tersebut dikenal sebagai proxy means testing, yakni penentuan tingkat kesejahteraan berdasarkan indikator tidak langsung. Namun metode ini memiliki tingkat kesalahan yang cukup besar.
“Error-nya bisa 20 sampai 40 persen, tergantung programnya. Ada orang yang seharusnya menerima tetapi tidak dapat, dan ada juga yang sebenarnya tidak layak tapi menerima bantuan,” katanya.
Selain persoalan penetapan kelayakan, Arief menyebut sumber kesalahan lain berasal dari proses penyaluran bansos, termasuk kendala administrasi dan akses layanan keuangan.
Untuk mengatasi hal itu, pemerintah saat ini tengah mengembangkan sistem digitalisasi perlindungan sosial melalui proyek percontohan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan 42 kabupaten lainnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah mekanisme on-demand, di mana masyarakat yang merasa membutuhkan bantuan dapat mendaftarkan diri secara mandiri.
“Dengan cara ini, exclusion error bisa berkurang karena masyarakat yang merasa perlu pasti mendaftar. Sementara yang merasa tidak perlu kemungkinan besar tidak akan mendaftar,” jelasnya.
Arief mengatakan pemerintah juga mulai mengintegrasikan sedikitnya delapan data administrasi negara untuk memverifikasi kelayakan penerima bantuan. Data tersebut meliputi data Badan Kepegawaian Negara, Korps Lalu Lintas Polri, hingga Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
“Sekarang data-data itu sudah interoperable. Ini baru pertama kali selama 80 tahun Indonesia merdeka data administrasi bisa saling terhubung untuk basis penyaluran bantuan sosial,” ujarnya.
Meski demikian, Arief menilai tingkat kesalahan nol persen hampir mustahil dicapai selama pendapatan masyarakat belum sepenuhnya terdokumentasi secara formal.
“Kalau bisa mencapai error sekitar 20 persen saja itu sudah sangat bagus menurut standar internasional,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran tersebut.
Ia optimistis digitalisasi dapat mempercepat perbaikan akurasi data bansos, seiring peningkatan penggunaan Identitas Kependudukan Digital (IKD) dan integrasi sistem administrasi nasional.
Terkait kendala wilayah blank spot internet, Arief mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang mulai memanfaatkan alternatif koneksi seperti layanan satelit.
Namun menurutnya, solusi jangka panjang tetap membutuhkan penguatan infrastruktur digital nasional, termasuk kemungkinan pemanfaatan jaringan kelistrikan untuk mendukung layanan broadband.
“Jangan anti terhadap teknologi alternatif seperti satelit internet. Karena jangan sampai masyarakat kehilangan kesempatan hanya karena akses internet belum tersedia,” ujarnya.
Arief Anshory juga menepis anggapan bahwa perbaikan akurasi bansos otomatis akan mengurangi anggaran perlindungan sosial secara signifikan. Menurutnya, dana yang sebelumnya salah sasaran justru akan dialihkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Ini bukan sekadar soal penghematan anggaran, tapi bagaimana pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif dan lebih adil,” kata anggota DEN tersebut.
Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto mendorong agar digitalisasi perlindungan sosial dapat segera dimulai secara nasional pada tahun ini, meski implementasi penuh akan dilakukan secara bertahap.
“Kick-off nasional menurut saya bisa dimulai tahun ini, tetapi kesiapan data tentu bertahap,” pungkasnya.(Red/Ip)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250












