- Byar Pret! Byar Pret! LBH Borneo Nusantara Resmi Gugat PLN di PTUN Banjarmasin
- Pelindo Kotabaru Perkuat Sinergi Maritim, Dukung Open Ship KRI Banjarmasin-592 di Pelabuhan Stagen
- Menko Polkam Apresiasi Penanganan Karhutla di Kalsel, BPBD Perkuat Lima Posko Lapangan
- Menko Polkam Optimistis Karhutla Kalsel Terkendali, Tekankan Sinergi dan Kepedulian Masyarakat
- Hasnuryadi Sulaiman: Sinergi Kuat Banua Hebat Jadi Fondasi Pembangunan dan Keamanan Kalsel
- FKG ULM Selaraskan Persepsi Instruktur Klinik melalui Workshop Clinical Teaching Berbasis OBE
- Ratusan Pesepakbola Ikut Seleksi Pembentukan Tim Peseban Jelang Piala Soeratin U-17 Kalsel
- Puluhan Warga Rantau Bakula Geruduk PT Merge Mining Industri Tuntut Hentikan Operasi
- Pemkab Kotabaru Resmi Tutup Turnamen Voli Perwosi Cup I 2026
- DPRD Kotabaru Komitmen Dukung Pembinaan Atlet Voli Lewat Perwosi Cup I 2026
Opini | Kotabaru, Banjir Rutin Mendadak

Keterangan Gambar : Banjir di Kotabaru, yang menyisakan banyak derita bagi masyarakat, Kamis (28/8/2025).
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - “Semua sungai menuju ke laut, tapi rumah-rumah menghalanginya”. Begitulah gambaran Kotabaru, khususnya di Kecamatan Pulau Utara, yang setiap kali hujan di wilayah gunung, selalu dilanda banjir mendadak.
Baca Lainnya :
- Pernyataan Sikap Forum Ambin Demokrasi: Demokrasi Harus Damai0
- Pemkab Kotabaru Gelar Giat Bedah Buku Koki Otonomi: Resep Memajukan Pemerintah Daerah0
Banjirnya memang tidak lama, namun debit airnya banyak dan deras. Akan semakin tinggi, manakala bertemu air laut pasang dalam.
Pasti tidak ada yang salah dengan hujan dan air pasang. Sejak dahulu kala sudah terjadi, tapi banjir baru sekitar 10 tahun ini, dan kondisinya semakin parah.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan agar tidak menjadi bencana?
Tidak ada pilihan, kecuali melakukan 2 hal, yaitu reboisasi di wilayah gunung, seraya menghentikan segala bentuk aktivitas yang mengeksplotasi alam, termasuk tambang dan perkebunan besar. Dan yang tidak kalah penting, membebaskan sungai dari segala rintangan, agar air dari gunung mengalir bebas menuju laut.
Kemauan untuk membebaskan sungai dari segala rintangan, terutama rintangan berupa hunian, memerlukan ketegasan dan kesadaran dari seluruh warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
Bila sungai Baharu yang alirannya melewati Sungai Warik dan Kampung Kuin dapat dibebaskan dari segala rintangan, sebagian dari problem banjir tak terkendali di wilayah Agus Salim pasti akan teratasi.
Seluruh bangunan yang menutupi lebar sungai, mesti dibongkar tanpa kecuali. Dasar sungai dikeruk, agar kedalamannya bertambah dan daya tampungnya juga akan meningkat. Pulihkan kondisi sungai seperti dahulu kala, agar dalam dan lebarnya memungkinkan jukung tiung dapat lewat.
Seandainya sungai Baharu bisa dipulihkan, kota ini akan semakin cantik, karena sungai yang membelah kota ini sangat unik, mempertemukan air gunung dan air laut, sehingga rasanya sering kali payau dan kalau kondisinya bersih, akan menjadi kolam renang terpanjang setiap datang air pasang, tempat anak-anak bermain dengan suka cita.
Begitu juga sungai lainnya, mulai dari Kampung Bakti, Pal Satu, Dirgahayu, hingga Sungai Taib, ditata dan remajakan, sehingga mampu menampung luapan air.
Namun, bila tidak ada kemauan dan kesadaran, pastilah banjir akan terus terjadi. Kondisinya bahkan terus meningkat dari waktu ke waktu, seiring dampak dari perubahan iklim. Apalagi penebangan dan perusakan hutan di gunung tidak bisa dicegah. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita KALSEL













