- Gekrafs Binaan Disparpora Siap Promosikan Gula Aren Tirawan Kotabaru di CAEXPO 2026 China
- Pantai Risalo Tanjung Selayar, Tawarkan Keindahan Asri nan Alami
- Kadisparpora Kotabaru Dorong Kaum Muda Saijaan Lahirkan Karya Film
- Penutupan Pelatihan Paskibraka Kalsel 2026; Gubernur Titipkan Masa Depan Daerah, Bangsa dan Negara
- Gubernur H. Muhidin: Kalsel Perkuat Pilar Indonesia Merawat Kehidupan Beragama
- Sekdaprov Kalsel Pimpin Visitasi PKN Tingkat II Angkatan XVIII ke Jawa Timur
- Momentum Harjad ke 76 Kalsel, Gubernur H. Muhidin Berikan Berbagai Penghargaan
- Pamor Borneo 2026 Himpun LoI Investasi Senilai Rp64,45 Triliun
- Pemprov Matangkan Persiapan Kalsel Expo 2026
- Pamor Borneo 2026 Membuka Potensi Pertumbuhan Bernilai Tambah di Pulau Kalimantan
Kolom | Dilema Narkoba

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid, penulis buku dan pemerhati kebijakan publik, Senin (6/1/25).
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneo Pos -- Tidak ada yang menyangkal, semua berkomitmen dalam pemberantasan narkoba. Tapi kenapa narkoba tidak pernah surut? Kasusnya selalu mencengangkan, karena banyak pihak yang mestinya berkomitmen memberantas, nyatanya memelihara dan beroleh keuntungan dari nakoba.
Baca Lainnya :
- Awalnya Diduga Pelaku Pencurian, Ujungnya AW Diciduk Tim Polsek Sungai Pinang Lantaran Bawa Sabu0
- Polres Samosir Tingkatkan Pengamanan Liburan Tahun Baru 20250
Dialog sore itu di sebuah hotel di pinggiran Sungai Martapura, dihadiri para aktivis dan media masa, bagian dari kepedulian masyarakat sipil atas fenomena publik yang tak berkesudahan. Akhirnya lebih banyak membicarakan hal dan soal yang menjadi dilema dalam penanganan narkoba.
Antara lain, maksud hati ingin mensejahterahkan warga dengan eksploitasi sumber daya alam – karena hanya itu yang mampu dilakukan. Nyatanya aktivitas tersebut justru mengundang maraknya hiburan malam, prostitusi dan lalu narkoba.
Maunya ingin memajukan daerah melalui pariwisata, nyatanya juga mengundang bertumbuhnya hiburan malam, prostitusi dan lantas narkoba.
Katanya melindungi warga, nyatanya lebih suka “pemenjaraan” dari pada direhabilitasi. Mestinya jumlah yang direhabilitasi lebih tinggi angkanya, nyatanya yang dipenjara dan berstatus sebagai pengedar jumlahnya jauh lebih banyak. Mungkinkah penjual lebih banyak dari pembeli?
Katanya warga harus diselamatkan dari bahaya narkoba, nyatanya pusat-pusat rehabilitasi tidak kunjung dibangun. Katannya perang besar terhadap narkoba, buktinya enggan menyatakan darurat narkoba.
Giat penangkapan lebih dianggap prestasi dari pada pencegahan. Padahal bila sadar bahwa yang disasar kejahatan narkoba adalah generasi muda, maka pemenjaraan bukanlah solusi. Perspektif generasi muda sebagai korban, harus dipertajam, sehingga lebih banyak upaya penyelamatan dari pada hukuman.
Mestinya lebih banyak giat yang bertujuan memfasilitasi peningkatan prestasi generasi muda, termasuk oleh Kepolisian. Misalnya diselenggarakan Kapolda Cup hingga Kaplres Cup, dalam berbagai jenis olahraga dan kesenian. Bila anak muda dialihkan perhatiannya pada olahraga dan kesenian, maka pikirannya menjadi positif dan narkoba semakin menjauh.
Sayangnya semua serba dilema, karena narkoba juga potensial sebagai jembatan dalam mengejar kekayaan dan karir. Terbukti banyak yang dijebak hanya untuk memuluskan karir dan prestasi. Dan pengeder dipelihara semaikin gemuk, sebab mendatangkan cuan dan terkait langsung dengan eksploitasi sumber daya alam. (*red/nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0









.jpg)




