- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
Opini | Kebijakan Sumbu Pendek, Soal Raperda No. 6 Tahun 2021

Keterangan Gambar : Muzakir Fachmi pemerhati kebijakan publik Kotabaru.
Oleh : Muzakir Fachmi
Kotabaru, Borneopos.com - Menarik untuk mencermati hasil laporan akhir panitia khusus (Pansus) I DPRD atas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pemilihan Kepala Desa (Borneopos, 5/7/2026)
Baca Lainnya :
- Perkenalkan Nilai-Nilai Budaya, DKD Kotabaru Gelar Lomba Musikalisasi Puisi Bahasa Banjar0
- Pansus I DPRD Kotabaru Setujui Raperda Pemberian Purna Bhakti Bagi Kepala Desa0
Dalam laporan yang disampaikan pada Rapat Paripurna DPRD kabupaten Kotabaru tahun 2026 ini, salah satu point yang tertera dalam Rancangan Peraturan Daerah itu adalah pemberian Purna Bhakti bagi kepala desa yang telah menyelesaikan satu periode masa jabatan.
Jika Raperda ini lolos menjadi Perda Kotabaru maka ini adalah kebijakan dan keputusan yang sangat tidak peka dan tidak empati kepada masyarakat.
Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya harga-harga yang berdampak pada makin menurunnya daya beli masyarakat Kotabaru, justru DPRD dan Pemerintah kabupaten Kotabaru mempertontonkan dagelan yang tidak lucu.
Kebijakan ini tidak saja menyakiti perasaan masyarakat tapi juga menjadi beban berat APBD. Inilah ketidaktepatan kebijakan fiskal daerah ini.
Beban APBD Kotabaru yang 60-70% sudah dihabiskan untuk belanja pegawai daerah dan hanya menyisakan kisaran 30% belanja pembangunan makin diperberat jika keputusan Raperda tersebut menjadi Perda.
Padahal di tengah situasi ekonomi yang mengalami tekanan saat ini maka kebijakan fiskal harus semakin cerdas. APBD harus menjadi trigger untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi daerah karena dengan pertumbuhan ekonomi tersebut akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Kebijakan fiskal yang cerdas akan menjadi stimulan ekonomi yang besar dampaknya bagi masyarakat terutama para pelaku UMKM.
Masyarakat harus menolak Perda yang justru menjadi beban daerah. (red/ril)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250













