- Bupati Kotabaru Hadiri Penandatanganan Kontrak Lanjutan Pembangunan Jembatan Pulau Laut
- Pemkab Kotabaru Gelar Apel Pagi dan Halal Bihalal, ASN dihimbau Terbuka terhadap Kritik dan saran
- Wagub Kalsel Dorong Penguatan UMKM
- Bambang Dorong Hasnuryadi Lanjutkan Kepemimpinan KONI Kalsel 2026–2030
- Pemerintah Jamin Distribusi BBM ke Wilayah 3T
- Indonesia dan RRT Perkuat Kerja Sama Keamanan di Tengah Dinamika Global
- Pemkab Kotabaru Promosikan Potensi Wisata Daerah Lewat Giat Funbike
- Filipina Darurat Energi, Menteri ESDM: Stok Energi Kita Aman di Tengah Krisis Global
- [HOAKS] Presiden Prabowo Minta Maaf terkait Ikut Board of Peace dan akan Kembalikan Rp17 Triliun
- Kemlu: Iran Beri Lampu Hijau untuk Kapal Tanker Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz
Pedagang Pasar Bauntung Banjarbaru Menjerit: Pembeli Sepi Retribusi Mahal!

Keterangan Gambar : Kondisi kios kosong yang ditinggalkan pada pedagang, Jumat (14/11/2025).
Banjarbaru, Borneopos.com (14/11/25) – Aktivitas di Pasar Bauntung Banjarbaru, Jalan RO Ulin, kian meredup drastis. Pasar yang baru diresmikan pada 2021 sebagai relokasi dari pasar lama ini kini diwarnai Los atau lapak-lapak kosong, ditinggalkan oleh para pedagang yang memilih pindah ke pasar pesaing.
Baca Lainnya :
- Pemkab Kotabaru Perkuat Tata Kelola Data Lewat Workshop Manajemen Data dan Statistik 20250
- Wujudkan Kota Layak Anak, Pemkot Banjarbaru Perkuat Kapasitas SDM Lewat Bimtek Hak Anak0
Sepinya pembeli yang hanya ramai di akhir pekan membuat para pedagang kesulitan bertahan.
"Yang ramai biasanya hanya Sabtu Minggu, kalau hari biasa sangat sepi. Tahun ini yang terparah," ujar Ibu Atrofah, salah satu pedagang jamu yang sudah lima tahun berjualan sejak awal pembangunan pasar. Biaya tinggi dan parkir picu perpindahan
Menurut para pedagang, akar masalah sepinya pasar Bauntung terletak pada biaya operasional yang memberatkan dan kemudahan yang ditawarkan oleh pasar lain. Banyak pedagang memutuskan pindah ke Pasar Jati di Banjarbaru Utara karena dua alasan utama yaitu sewa lapak gratis dan sistem belanja yang lebih sederhana.
Salah satu pedagang sayuran, Yani, mengeluhkan tingginya biaya di Pasar Bauntung.
"Di sini sewanya lumayan mahal dan sangat terasa kalau lagi sepi, belum lagi bayar pajaknya. Makanya banyak pedagang yang lari ke sana (Pasar Jati)," ungkapnya.
Menurut Yani retribusi lapak di Pasar Bauntung bervariasi. Dari Rp500.000 - Rp800.000. Tarif ini sangat kontras dengan Pasar Jati yang diklaim gratis.
Selain biaya lapak, Ibu Yani juga menyoroti sistem yang dianggap merepotkan pembeli.
"Orang lebih simpel juga ketika berbelanja, tidak seperti di Pasar Bauntung yang menggunakan sistem parkir karcis," katanya.
Usulan Ekstrem dari beberapa pedagang jika saja bisa menutup Pasar Pesaing dan memindahkannya ke Pasar Bauntung tapi dengan harga sewa yang lebih murah. Karena melihat banyaknya lapak yang kosong, pedagang yang bertahan berharap Pemerintah Kota Banjarbaru mengambil langkah tegas.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi pedagang yang masih bertahan, menanti solusi strategis dari pemerintah Kota Banjarbaru agar Pasar Bauntung dapat kembali ramai dan menjadi pusat perekonomian yang hidup. (nita)


Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250













