- Pemkab Kotabaru Gelar Pra Musrenbang PPPS Tahun 2026
- Prabowo Perintahkan Percepatan Waste to Energy, Sampah Jadi Energi di Kota-Kota Besar
- Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Optimalkan SDA untuk Kemandirian Nasional
- Ribuan SPPG Disetop Sementara, Pengelola Diminta Perbaiki Pelayanan
- Kasus Kuota Haji, KPK Tahan Stafsus Eks Menag
- Wali Kota Lisa: Setiap Jam 10 Pagi Lagu Indonesia Raya Dikumandangkan, Hentikan Aktivitas Sejenak!
- 1.251 Dapur MBG Disanksi, Neng Eem Minta Akreditasi Tak Sekadar Formalitas
- Pemerintah Batalkan Wacana PJJ, Pembelajaran Tatap Muka Tetap Paling Optimal
- Kapolda Kalsel Cek Kesiapan Pengamanan, Rantis Randurlap, dan Dapur Umum Jelang Haul Datu Kalampayan
- CSR SCG Dampingi dan Kembangkan UMKM Dapur Nany Produksi Putu Ayu
Opini | UMKM Mama Khas Banjar MEMILIH MATI

Keterangan Gambar : Karikatur Ilustrasi (istimewa)
Oleh : Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
Borneopos.com, Banjarmasin - Karena tidak tahan berbagai tekanan entah dari mana datangnya, akhirnya Mama Khas Banjar, UMKM yang merintis usahanya dari nol tersebut, "memilih mati".
Persis 1 Mei, ketika hari buruh dikumandangkan di seluruh dunia, pemiliknya mengumumkan bahwa usaha mereka tutup.
Apa untungnya bagi para penekan, hingga membuat UMKM tidak nyaman dalam berusaha? Mungkin hanya “kepuasan”. Puas seolah berhasil menegakkan aturan setegak-tegaknya. Puas karena sudah berhasil menuntut sedemikian rupa, hingga UMKM yang dianggap musuh, menyerah terkapar tidak tahan. Dan mungkin puas, sebab mampu membuktikan bahwa kami berkuasa, kami hebat. Di luar dari “kepuasan” tersebut, rasanya tidak ada sedikitpun yang disebut untung.
Tidakkah terpikir oleh para penuntut, betapa besar kerugian bila satu saja UMKM mati karena tidak tahan oleh tekana-tekanan dalam berusaha. Karyawannya di rumahkan, padahal UMKM itu pahlawan yang telah membuka lapangan pekerjaan. Sedangkan pemerintah, sedikit pun tidak mampu membuka lapangan pekerjaan. Mestinya, semua yang berhasil membuka lapangan pekerjaan, terutama UMKM yang jumlahnya sangat besar, diberikan apresiasi dan pengharaan.
Bandingkan lapangan pekerjaan yang mampu diserap UMKM. Boleh bandingkan dengan pemerintah atau perusahaan besar sekali pun. Jumlahnya tidak sebanding, jauh lebih besar yang mampu diserap UMKM. Lantas kenapa dimatikan?
UMKM juga terbukti berungkali menjadi pahlawan roda ekonomi masyarakat. Baca saja sejumlah penelitian ilmiah, UMKM lah yang berhasil memutar roda ekonomi di tingkat bawah, bahkan pada saat krisis ekonomi melanda, termasuk saat pandemi. Ketika satu UMKM dibunuh, maka satu bagian dari roda ekonomi itu berhenti berputar.
Tidakkah pula terpikir, tutupnya satu UMKM, telah memberi efek besar bagi ketakutan warga membuka usaha.
Mama Khas Banjar yang memilih mati, telah berhasil mengirim pesan, bahwa UMKM itu saat kecil nampaknya dibina, namun bila sudah tumbuh agak besar akan ada yang memikirkan untuk dibinasakan, disembelih dengan berbagai ketentuan, termasuk sistem perizinan, sistem hukum yang picik, berbagai aturan yang semakin rumit, serta pajak berlapis, yang membuat usaha jenis apapun tidak mampu berkembang leluasa.
Memilih mati, adalah pesan bahwa ternyata pemerintah tidak mampu melindungi UMKM dari tekanan yang tidak penting, yang sekedar memenuhi kepuasan. (nm)
Baca Lainnya :



.jpg)










