- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
Opini | UMKM Mama Khas Banjar MEMILIH MATI

Keterangan Gambar : Karikatur Ilustrasi (istimewa)
Oleh : Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
Borneopos.com, Banjarmasin - Karena tidak tahan berbagai tekanan entah dari mana datangnya, akhirnya Mama Khas Banjar, UMKM yang merintis usahanya dari nol tersebut, "memilih mati".
Persis 1 Mei, ketika hari buruh dikumandangkan di seluruh dunia, pemiliknya mengumumkan bahwa usaha mereka tutup.
Apa untungnya bagi para penekan, hingga membuat UMKM tidak nyaman dalam berusaha? Mungkin hanya “kepuasan”. Puas seolah berhasil menegakkan aturan setegak-tegaknya. Puas karena sudah berhasil menuntut sedemikian rupa, hingga UMKM yang dianggap musuh, menyerah terkapar tidak tahan. Dan mungkin puas, sebab mampu membuktikan bahwa kami berkuasa, kami hebat. Di luar dari “kepuasan” tersebut, rasanya tidak ada sedikitpun yang disebut untung.
Tidakkah terpikir oleh para penuntut, betapa besar kerugian bila satu saja UMKM mati karena tidak tahan oleh tekana-tekanan dalam berusaha. Karyawannya di rumahkan, padahal UMKM itu pahlawan yang telah membuka lapangan pekerjaan. Sedangkan pemerintah, sedikit pun tidak mampu membuka lapangan pekerjaan. Mestinya, semua yang berhasil membuka lapangan pekerjaan, terutama UMKM yang jumlahnya sangat besar, diberikan apresiasi dan pengharaan.
Bandingkan lapangan pekerjaan yang mampu diserap UMKM. Boleh bandingkan dengan pemerintah atau perusahaan besar sekali pun. Jumlahnya tidak sebanding, jauh lebih besar yang mampu diserap UMKM. Lantas kenapa dimatikan?
UMKM juga terbukti berungkali menjadi pahlawan roda ekonomi masyarakat. Baca saja sejumlah penelitian ilmiah, UMKM lah yang berhasil memutar roda ekonomi di tingkat bawah, bahkan pada saat krisis ekonomi melanda, termasuk saat pandemi. Ketika satu UMKM dibunuh, maka satu bagian dari roda ekonomi itu berhenti berputar.
Tidakkah pula terpikir, tutupnya satu UMKM, telah memberi efek besar bagi ketakutan warga membuka usaha.
Mama Khas Banjar yang memilih mati, telah berhasil mengirim pesan, bahwa UMKM itu saat kecil nampaknya dibina, namun bila sudah tumbuh agak besar akan ada yang memikirkan untuk dibinasakan, disembelih dengan berbagai ketentuan, termasuk sistem perizinan, sistem hukum yang picik, berbagai aturan yang semakin rumit, serta pajak berlapis, yang membuat usaha jenis apapun tidak mampu berkembang leluasa.
Memilih mati, adalah pesan bahwa ternyata pemerintah tidak mampu melindungi UMKM dari tekanan yang tidak penting, yang sekedar memenuhi kepuasan. (nm)
Baca Lainnya :














