- Perkuat Ekosistem Digital, Diskominfo Kalsel Hadiri Forkomsanda di DIY
- Dispora Kalsel Bekali Wirausaha Muda Kuasai Strategi Pemasaran Digital
- RSGM Gusti Hasan Aman Sosialisasikan SI BEKANTAN NASAR, Perkuat Transformasi Digital
- WALHI Kalsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan Perusak Lingkungan
- Pemkab Kotabaru Apresiasi Kelulusan Siswa SMPN 1 Kotabaru, Dorong Generasi Muda Raih Prestasi
- Kadispapora Hadiri Musen VIII Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru
- SLB-C Pembina Lahirkan Kemandirian Siswa Melalui Program Vokasi Berprestasi Internasional
- Hari Jadi ke-76 Kalsel Akan Dipusatkan di Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
- Jaga Inflasi dan Jaga Daya Beli, Pemprov Kalsel Gelar Gerakan Pangan Murah
- Dispora Kalsel Siapkan Pelatihan Wasit dan Juri untuk Tingkatkan Mutu Tenaga Keolahragaan
OPINI | Sprotivitas Porprov Yang Makin Langka
3.jpg)
Keterangan Gambar : Noorhalis Majid, pemerhati kebijakan publik.
Oleh: Noorhalis Majid
Porprov XII Kalimantan Selatan (Kalsel) 2025 diselenggarakan di Kabupaten Tanah Laut pada November 2025. Merupakan ajang olahraga terbesar di Kalimantan Selatan, mempertandingkan 55 cabang olahraga, meningkat dari sebelumnya, dan akan dimulai pada sekitar akhir Oktober serta ditutup pada 10 November 2025.
Baca Lainnya :
- Bappeda Kalsel Bahas Soal Pembinaan dan Pengawasan Kinerja Kepala Daerah0
- SMSI Kalsel Gelar Pelatihan Jurnalistik Bagi BEM se Kalimantan Selatan0
Apa yang paling penting dan mendasar dari penyelenggaraan suatu ajang olahraga? Tentu saja sportivitas. Tanpa sportivitas, segala prestasi menjadi percuma, tidak penting dan bahkan bukan jadi suatu kebanggaan, sebaliknya justru tindakan memalukan, mencoreng olah raga itu sendiri.
Hanya saja, sportivitas bertarung dengan segala macam kepentingan, termasuk nafsu dan ambisi. Sehingga sudi menghalalkan segala cara, agar tercapai walau tanpa disertai kehormatan. Akhirnya, sportivitas itu sendiri semakin langka, semakin jauh dari ajang olah raga yang sejatinya menempatkannya sebagai mahkota.
Apa saja bentuk tindakan yang membungkam sportivitas tersebut? Tentu saja sangat banyak dan celakanya sudah dianggap lazim. Bukankah Porprov merupakan ajang pembuktian tentang keseriusan pemerintah daerah dalam melakukan pembinaan para atlit agar berprestasi? Lantas kenapa harus membeli – mentransfer atlit dari daerah lain dan mau memalsukan identitas diri atlit sehingga dianggap berdomisil pada daerah yang diwakilinya? Begitulah cara instan dalam membina atlit, yaitu membeli atlit dari daerah lain agar memberikan prestasi pada daerah yang diwakilinya.
Terjadi jual beli pemain, pengurus organisasi olah raga sibuk mencari atlit berprestasi untuk dirayu mewakili daerahnya. Bahkan pembelian atlit, hingga keluar wilayah Provinsi, yang menyebabkan Porprov itu sendiri menjadi ajang kepalsuan, karena sudah tidak lagi berorientasi pada pembinaan atlit-atlit lokal. Bahkan berani menjanjikan bonus lebih mahal dari daerah lain.
Begitu juga dengan tuan rumah, sibuk kasak kusuk melakukan berbagai skenario agar bisa menjadi juara umum. Tujuannya ingin memuaskan sang pemimpin daerah, karena dianggap berprestasi membina olah raga, padahal isinya kepalsuan. Bahkan tanpa malu tuan rumah mematok peroleh medali emas untuk suatu cabang olah raga, bila tidak memberikan sejumlah jatah perolehan medali untuk tuan rumah, cabang tersebut bisa saja batal dipertandingkan. Akhirnya, semua bentuk pertandingan yang bersifat subyektif, yang kemenangannya ditentukan oleh wasit atau juri, dimenangkan untuk menjadi jatah tuan rumah.
Dan berbagai bentuk kecurangan lainnya, yang membunuh semangat sportivitas. Olah raga akhirnya tidak ubahkan seperti perhelatan politik, di dalamnya sarat kepalsuan dan permainan curang. Tentu saja ada para penjaga sportivitas, namun jumlahnya marjinal dan sering kali diledek, dianggap munafik.
Lahan subur kecurangan, diperparah oleh rendahnya perhatian dan pembinaan pemerintah daerah. Bahkan, ada daerah yang hingga perhelatan Porprov sudah di depan mata, belum juga turun anggaran untuk biaya pemusatan pelatihan.
Rendahnya perhatian pemerintah, membuat atlit kehilangan harapan dan semangat. Tampil ala kadarnya dan tentu saja sulit bertarung menghadapi atlit bayaran yang didatangkan dari berbagai tempat, sekedar meraih janji cuan, ngotot menang menghalalkan segala cara. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250














