- Gekrafs Binaan Disparpora Siap Promosikan Gula Aren Tirawan Kotabaru di CAEXPO 2026 China
- Pantai Risalo Tanjung Selayar, Tawarkan Keindahan Asri nan Alami
- Kadisparpora Kotabaru Dorong Kaum Muda Saijaan Lahirkan Karya Film
- Penutupan Pelatihan Paskibraka Kalsel 2026; Gubernur Titipkan Masa Depan Daerah, Bangsa dan Negara
- Gubernur H. Muhidin: Kalsel Perkuat Pilar Indonesia Merawat Kehidupan Beragama
- Sekdaprov Kalsel Pimpin Visitasi PKN Tingkat II Angkatan XVIII ke Jawa Timur
- Momentum Harjad ke 76 Kalsel, Gubernur H. Muhidin Berikan Berbagai Penghargaan
- Pamor Borneo 2026 Himpun LoI Investasi Senilai Rp64,45 Triliun
- Pemprov Matangkan Persiapan Kalsel Expo 2026
- Pamor Borneo 2026 Membuka Potensi Pertumbuhan Bernilai Tambah di Pulau Kalimantan
Opini | Fenomena Nama Jalan, Godaan Ambung Bakul

Keterangan Gambar : Foto : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Fenomena memberi nama jalan dengan nama pahlawan, tokoh atau orang ternama, sudah ada sejak dulu. Lajimnya orang tersebut sudah meninggal dunia, sehingga nama dengan segala ketokohannya, diabadikan menjadi nama jalan. Yang terbanyak tentu saja nama pahlawan. Nama Ahmad Yani, atau Gatot Subroto, mungkin menjadi nama jalan terbanyak dan terpanjang jalannya, dibandingkan tokoh lainnya.
Baca Lainnya :
- Alumni Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Polda Kalsel Gelar Lari Bahagia dan Baksos Ketahanan Pangan 0
- Polres Samosir Lakukan Pengamanan Event The Blues Fun Run Samosir 20250
Sekarang muncul fenomena baru, bukan lagi nama tokoh atau orang yang dianggap tokoh yang sudah meninggal dunia dijadikan nama jalan, namun orang yang masih hidup. Biasanya seorang yang menjabat sebagai kepala daerah dan masih aktif. Apalagi karena banyak anak buah yang suka memuji, “maambung bakul” setinggi langit, maka tawaran dengan alasan sebagai kenangan, akan datang dengan segala argument yang sulit ditolak.
Apa konsekuensi menjadikan nama jalan atas orang yang masih hidup, terutama nama pejabat atau kepala daerah?
Dikarenakan masa beredarnya di muka bumi masih berlangsung – sebab masih hidup, maka sangat dimungkinkan orang tersebut melakukan hal-hal yang dianggap salah, baik salah secara hukum, secara adat atau pun agama. Sehingga yang semula dianggap mulia dan terhormat, seketika hina dina tak bermakna. Yang semula dipuja-puji dan disanjung, tetiba ternistakan, tidak ada tempat bagi namanya di jajaran orang terhormat dan mulia. Kalau terlanjur menjadi nama jalan, akhirnya justru dikenang sebagai orang hina, dan nama jalan tersebut tidak lagi menjadi nama kebanggaan yang layak dikenang.
Karenanya, memang lebih arif dan bijaksana kalau yang bersangkutan masih hidup, masih terlibat dalam dinamika hiruk pikuk kehidupan yang penuh ketidak pastian, sebaiknya bersabar untuk tidak gegabah, tidak terburu-buru, apalagi “nafsu”, untuk diabadikan namanya menjadi nama jalan.
Godaan menjadi orang ternama memang terkadang membutakan mata. Pun godaan ingin dikenang sebagai orang hebat, dianggap sukses melakukan ini dan itu, mudah datang penuh pujian “ambung bakul”. Namun percayalah, lebih baik bersabar, karena kemuliaan yang dipaksakan, sebenarnya semu, bahkan berpotensi hina-dina.
Masih banyak nama tokoh hebat mendunia yang sudah meninggal dan layak dikenang - diabadikan menjadi nama jalan, sebut saja misalnya Anang Ardiansyah, Djohan Effendi, atau nama lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. (nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0









.jpg)




