- Pemkab Kotabaru Resmi Tutup Turnamen Voli Perwosi Cup I 2026
- DPRD Kotabaru Dorong Pembinaan Atlet Lewat Perwosi Cup I 2026
- Wakil Ketua DPRD Kotabaru Apresiasi Turnamen Voli Antar Pelajar
- DPRD Kotabaru Pastikan Distribusi Solar Bersubdisi Tepat Sasaran
- Warga Tarjun Usul Paving dan JPU, Sahrani: Akan Diperjuangkan Hingga Terealisasi
- Sahrani Serap Aspirasi pada Reses di Desa Tarjun
- Gewsima Serap Aspirasi Warga Semayap pada Reses Tahap II 2026
- DPRD Kotabaru Apresiasi Kegiatan FBS 2026
- Dispora Kalsel Seleksi Wirausaha Muda Berprestasi, Dorong UMKM Berbasis Kearifan Lokal
- Duta Pepelingasih Kalsel 2026 Resmi Terpilih, Siap Jadi Agen Perubahan Pelestarian Lingkungan
OPINI | Nasionalisme di Era Digital : Mengukuhkan Identitas Bangsa di Era Globalisasi

Keterangan Gambar : Foto : (istimewa)
Penulis : Siti Aisyah Richa Taruna
Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Malang
Baca Lainnya :
- Viral, Penganiayaan Diatas Jetski Di Danau Toba, Polisi Tangkap Terduga Pelaku0
- Wali Kota Samarinda Audiensi Dengan PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ajak Sinergitas0
Banjarmasin, Borneo Pos. -- Nasionalisme adalah salah satu nilai penting yang menjadi dasar persatuan dan identitas sebuah bangsa. Namun, perkembangan era digital saat ini membawa tantangan besar bagi keberlanjutan nasionalisme.
Kemajuan teknologi membuat batasan antarnegara menjadi kabur, sehingga arus globalisasi yang membawa budaya asing menjadi sulit dibendung. Meski begitu, era digital juga dapat menjadi alat yang kuat untuk memperkuat nasionalisme.
Salah satu tantangan utama yang muncul adalah homogenisasi budaya. Budaya asing, terutama yang disebarkan melalui media sosial, kini lebih mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Akibatnya, budaya lokal sering kali terpinggirkan. Banyak anak muda yang lebih akrab dengan tren budaya asing daripada seni tradisional seperti wayang atau tari daerah. Hal ini tentu berisiko melemahkan identitas budaya bangsa.
Namun, nasionalisme dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan ini. Gerakan seperti "BanggaBuatanIndonesia" adalah salah satu contoh bagaimana nasionalisme dapat dihidupkan kembali melalui media digital.
Dengan mengajak masyarakat mencintai produk dan budaya lokal, kampanye ini tidak hanya membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat rasa bangga sebagai bangsa Indonesia.
Selain sebagai penangkal, era digital juga membuka peluang besar untuk memperkenalkan budaya lokal ke dunia internasional.
Banyak kreator Indonesia memanfaatkan platform seperti YouTube dan Instagram untuk menampilkan seni tradisional, seperti batik, gamelan, dan kuliner khas Indonesia. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk terhubung dengan budaya mereka sendiri, sekaligus memperkenalkannya ke dunia.
Tidak hanya soal budaya, nasionalisme di era digital juga penting untuk membangun ketahanan bangsa. Misalnya, gerakan cinta produk lokal tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap negara.
Selain itu, solidaritas nasional juga menjadi kunci untuk melawan ancaman hoaks dan disinformasi yang marak di dunia maya. Dengan rasa kebersamaan, masyarakat bekerja sama menjaga kedaulatan informasi dan melindungi identitas digital bangsa.
Nasionalisme di era digital tetap relevan, bahkan menjadi lebih penting. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, nasionalisme dapat menjadi kekuatan utama untuk menghadapi tantangan globalisasi.
Oleh karena itu, kerja sama semua pemangku kepentingan antara lain pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan sangat diperlukan untuk memastikan nilai-nilai nasionalisme terus hidup dan berkembang.
Jika kita mampu memadukan teknologi dengan semangat nasionalisme, Indonesia akan semakin kuat di tengah arus globalisasi. (*red)

Siti Aisyah Richa Taruna - Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Malang
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- Jembatan Pulau Laut Dilanjut, Anggaran 2024 APBD Kalsel 295 M Dan Kotabaru 100 M, Pelaksana Asri-Pra0
Berita KALSEL













