- Wawali Banjarbaru Mundur! Ketua GMPD: Pengganti Harus Dari Partai Koalisi dan Dekat Kepada Warga
- WALHI Kalsel Desak KLH Buka Data 335 Perusahaan yang Diinvestigasi Terkait Karhutla
- Pemkab Kotabaru dan Kementerian ATR/BPN Bahas Potensi Pengembangan Serongga
- Diskusi Kritis di Banjarbaru, Djarot PDIP: Anak Muda Diam, Politik Akan Dikuasai Orang Tidak Waras
- 20 Korporasi Tersangka Karhutla, WALHI Region Kalimantan Tantang Polri Penjarakan Direkturnya!
- Pelantikan KNPI Kotabaru Periode 2026–2029, Pemuda Diajak Bersatu dan Berkontribusi untuk Daerah
- Pengurus KNPI Kotabaru Periode 2026–2029 Resmi Dilantik, Kadisparpora: Kami Siap Kolaborasi
- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
OPINI | Nasionalisme di Era Digital : Mengukuhkan Identitas Bangsa di Era Globalisasi

Keterangan Gambar : Foto : (istimewa)
Penulis : Siti Aisyah Richa Taruna
Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Malang
Baca Lainnya :
- Viral, Penganiayaan Diatas Jetski Di Danau Toba, Polisi Tangkap Terduga Pelaku0
- Wali Kota Samarinda Audiensi Dengan PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ajak Sinergitas0
Banjarmasin, Borneo Pos. -- Nasionalisme adalah salah satu nilai penting yang menjadi dasar persatuan dan identitas sebuah bangsa. Namun, perkembangan era digital saat ini membawa tantangan besar bagi keberlanjutan nasionalisme.
Kemajuan teknologi membuat batasan antarnegara menjadi kabur, sehingga arus globalisasi yang membawa budaya asing menjadi sulit dibendung. Meski begitu, era digital juga dapat menjadi alat yang kuat untuk memperkuat nasionalisme.
Salah satu tantangan utama yang muncul adalah homogenisasi budaya. Budaya asing, terutama yang disebarkan melalui media sosial, kini lebih mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Akibatnya, budaya lokal sering kali terpinggirkan. Banyak anak muda yang lebih akrab dengan tren budaya asing daripada seni tradisional seperti wayang atau tari daerah. Hal ini tentu berisiko melemahkan identitas budaya bangsa.
Namun, nasionalisme dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan ini. Gerakan seperti "BanggaBuatanIndonesia" adalah salah satu contoh bagaimana nasionalisme dapat dihidupkan kembali melalui media digital.
Dengan mengajak masyarakat mencintai produk dan budaya lokal, kampanye ini tidak hanya membantu menjaga dan melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat rasa bangga sebagai bangsa Indonesia.
Selain sebagai penangkal, era digital juga membuka peluang besar untuk memperkenalkan budaya lokal ke dunia internasional.
Banyak kreator Indonesia memanfaatkan platform seperti YouTube dan Instagram untuk menampilkan seni tradisional, seperti batik, gamelan, dan kuliner khas Indonesia. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk terhubung dengan budaya mereka sendiri, sekaligus memperkenalkannya ke dunia.
Tidak hanya soal budaya, nasionalisme di era digital juga penting untuk membangun ketahanan bangsa. Misalnya, gerakan cinta produk lokal tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap negara.
Selain itu, solidaritas nasional juga menjadi kunci untuk melawan ancaman hoaks dan disinformasi yang marak di dunia maya. Dengan rasa kebersamaan, masyarakat bekerja sama menjaga kedaulatan informasi dan melindungi identitas digital bangsa.
Nasionalisme di era digital tetap relevan, bahkan menjadi lebih penting. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, nasionalisme dapat menjadi kekuatan utama untuk menghadapi tantangan globalisasi.
Oleh karena itu, kerja sama semua pemangku kepentingan antara lain pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan sangat diperlukan untuk memastikan nilai-nilai nasionalisme terus hidup dan berkembang.
Jika kita mampu memadukan teknologi dengan semangat nasionalisme, Indonesia akan semakin kuat di tengah arus globalisasi. (*red)

Siti Aisyah Richa Taruna - Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Malang
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0




.jpg)








