- WALHI Sebut RSPO is Greenwashing! Buyers Diminta Hentikan Pembelian Dari Pemasok Terkait Karhutla
- Wawali Banjarbaru Mundur! Ketua GMPD: Pengganti Harus Dari Partai Koalisi dan Dekat Kepada Warga
- WALHI Kalsel Desak KLH Buka Data 335 Perusahaan yang Diinvestigasi Terkait Karhutla
- Pemkab Kotabaru dan Kementerian ATR/BPN Bahas Potensi Pengembangan Serongga
- Diskusi Kritis di Banjarbaru, Djarot PDIP: Anak Muda Diam, Politik Akan Dikuasai Orang Tidak Waras
- 20 Korporasi Tersangka Karhutla, WALHI Region Kalimantan Tantang Polri Penjarakan Direkturnya!
- Pelantikan KNPI Kotabaru Periode 2026–2029, Pemuda Diajak Bersatu dan Berkontribusi untuk Daerah
- Pengurus KNPI Kotabaru Periode 2026–2029 Resmi Dilantik, Kadisparpora: Kami Siap Kolaborasi
- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
OPINI | Integritas, Mahkota Guru Besar

Keterangan Gambar : Ilustrasi guru besar
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Guru Besar, pasti bukan sekedar jabatan fungsional akademik tertinggi bagi dosen. Padanya tersirat kepakaran dan pengakuan atas karya ilmiah, peran serta kontribusi maksimal bagi masyarakat luas. Tercermin teladan akademik, bahkan menjadi motivator, penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, baik melalui pengajaran, penelitian serta keaktifan dalam penyebaran gagasan melalui tulisan.
Baca Lainnya :
- BI Kalsel Dorong Akselerasi Ekonomi Digital Melalui Banua QRIStival 20250
- Lestarikan Budaya Dayak, Pemkab. Kotabaru Hadiri Acara Adat Bawanang di Desa Laburan0
Ki Hajar Dewantara, memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Guru Besar, sebagai orang yang harus diteladani, baik menyangkut cara bersikap, berprilaku, atau pun berpikir terhadap lingkungan dan masyarakatnya.
Seorang Guru Besar, haruslah independent dari intervensi apapun, agar pendapat, pikiran dan tindakannya hanya berdasarkan keilmuan dan kepakarannya. Bukan karena tekanan apalagi pesanan. Karena itu, haruslah senantiasa mengembangkan kualifikasi keilmuan, agar sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman, ilmu dan terknologi.
Lantas, apa mahkota Guru Besar? Karena dia menjadi panutan, contoh dan teladan, tentu saja mahkotanya adalah integritas. Bahkan menurut Buya Hamka, bukan saja harus menjadi teladan, juga harus memiliki prinsif yang teguh, tidak mudah goyah oleh apapun.
Bicara tentang integritas kepada Guru Besar, seperti menggarami lautan – “kaya bajual dapur ka Nagara,” dia pasti lebih ahli dan mumpuni dari siapapun. Karenanya, manakala Guru Besar masih bermasalah dalam soal integritas, seperti satu peringatan atau alarm keras, terkait hal sangat mendasar yang sedang terjadi di dunia pendidikan dan masyarakat berbudaya.
Pepatah lama mengingatkan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Bila Guru besar masih bermasalah dalam soal integritas, bagaimana mungkin sekolah dan kampus dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran, etika dan moral kepada segenap murid? Bukankah integritas tidak cukup hanya dengan ceramah dan kata-kata. Diperlukan tauladan, contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru. Filosopi Jawa bahkan telah lama mengajarkan, seorang guru harus digugu dan ditiru. Digugu berarti dipercaya, diyakini kebenarannya dan patut didengarkan, sedangkan ditiru, sikap dan perbuatannya layak dicontoh karena mengandung ketinggian akhlak dan nilai luhur.
Tanpa mahkota integritas, Guru Besar tidak akan bermakna apapun. Bahkan lebih hina dari manusia biasa yang tanpa ilmu. Sebab ternyata ketinggian ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, tidak menjadi pencerah dalam menuntun tindakan, sikap, kata-kata dan perbuatan. Harus diketahui, peradaban berduka, manakala Guru Besar ternyata integritasnya keropos. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250




.jpg)









