- KNPI Kalsel Akan Gelar Diskusi dan Bedah Film *Pesta Babi*
- Wali Kota Cup Muaythai Jadi Ajang Pembinaan Atlet Muda di HUT ke-500 Banjarmasin
- Mutasi Wakapolda Kalsel, Brigjen Pol Noviar Gantikan Brigjen Pol Golkar Pang
- Bupati Kotabaru Hadiri Tabligh Akbar Haul ke-6 H. Andi Arsyad Petta Tahang di Tanah Bumbu
- Calon Jamaah Haji Kotabaru Masuk Asrama Banjarbaru, Siap Bertolak ke Tanah Suci
- Goweser Banua Antusias Ikuti MTB Fun Enduro Dispora Kalsel
- Andi Rustianto Segera Dilantik Sebagai Ketua KNPI Kalsel 2026–2029, pada 20 Mei 2026
- Polres Sumba Timur Amankan Tiga Pelaku Tambang Emas Ilegal di Kawasan Taman Nasional Matalawa
- Polisi Ringkus Pengasuh Ponpes yang Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Santri
- Menko Pangan Serap Aspirasi Petani Lampung, Perkuat Pupuk dan Harga Panen
Meski Tak Tersentuh Bantuan Modal Usaha Dari Pemerintah,Siti Gigih Berjualan Topang Ekonomi Keluarga

Keterangan Gambar : Siti dan dua anaknya dibawah terik matahari saat berjualan di tepi jalan protokol Sebelimbingan-Pantai Baru, Senin (29/9/2025).
Kotabaru, Borneopos.com - Gambaran memprihatinkan sekaligus heroik tampak saat kita melintas jalan protokol Desa Sebelimbingan - Pantai Baru, tak jauh dari jalan persimpangan menuju Kantor Bupati Kotabaru.
Baca Lainnya :
Dibawah terik matahari, terlihat seorang ibu muda, warga desa Pantai Baru, RT.06 Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru, Siti (25 tahun) bersama kedua anaknya yang berumur 1 (satu) dan 4 (empat) tahun sedang menunggu dagangannya berupa makanan (mie goreng).
Siti menceritakan kepada Borneopos.com, Senin (29/9/2025) dia berjualan di pinggir jalan protokol Sebelimbingan - Pantai Baru sudah lebih setengah tahun.
"Dulu ulun beberapakali menjajakan dagangan berupa kue, mie dan gorengan keliling di kantor Bupati dan kantor lainnya, tapi kurang laku, jadi ulun kembali berjualan disini," tuturnya lirih.
Lebih lanjut Siti menuturkan bahwa setiap hari dirinya mulai berjualan sekitar jam 07.00 Wita dan pulang siang atau sore hari, tak peduli jika cuaca panas atau hujan. Jika lagi beruntung dan ada pembeli yang memborong dagangannya, dia bisa pulang kerumah lebih awal.
"Dagangan (mie goreng) ini bukan ulun yang buat, ulun hanya mengambil upah menjualkan, per bungkus ulun dapat Rp. 1.000 rupiah, jadi hari ini Ulun bawa 25 bungkus, jadi kalau habis bisa dapat 25 ribu," terangnya bersemangat kepada Borneopos.com.

Pengamatan Borneopos.com dilapangan, Senin (28/9/2025) tampak raut wajah Siti yang lelah karena kepanasan, berjualan tanpa tanpa menggunakan payung, kursi meja dan tikar, melainkan langsung meletakkan barang dagangannya diatas tanah berbatu dan dia duduk bersama kedua anaknya di samping dagangannya.
"Meski kondisi seperti ini, berjualan tanpa payung, kena hujan dan panas, ulun tetap semangat, karena niat untuk membantu ekonomi keluarga. Dari rumah ulun di Pantai Baru ke sini tak pakai ongkos, karena cari tumpangan," ucapnya.
Siti juga menjelaskan bahwa saat ini dirinya bersama suami yang bekerja sebagai kuli bangunan belum memiliki rumah "kami tinggal di pondok kerabat, sambil menjagakan pondokan," terangnya.
Saat ditanya soal bantuan sosial apa saja dari pemerintah kabupaten yang diterima Siti dan keluarganya, dia mengungkapkan belum ada menerima bantuan apapun kecuali beras dari desa.
"Bantuan uang, modal usaha dan lainnya, ulun belum pernah menerima, kecuali pembagian baras dari desa," ungkapnya penuh harap.
Potret pejuang kelaurga serta pelaku UMKM sejati seperti Siti patut mendapat perhatian pemerintah Daerah (dinas Sosial, Diskoperindag dan lainnya), perusahaan-perusahaan melalui CSR dan stake holder lainnya.
Diakhir penuturannya kepada Borneopos.com Siti berharap agar dirinya bisa hidup lebih baik dan lebih layak.
"Mudahan rakyat miskin seperti kami mendapat perhatian,, dan bisa mendapat bantuan modal usaha agar hidup kami bisa lebih layak" tutupnya. (red)


Baca Lainnya :













