- Usai Upacara HUT RI ke 81, Bupati dan Wakil Bupati Kotabaru Kompak Kunjungi RSUD PJS
- HUT RI ke-81, Bupati Dan Wakil Bupati Kotabaru Teguhkan Semangat Menuju Kotabaru Hebat
- LPTQ Kotabaru Bina Talenta Qari dan Qariah, Targetkan Tiga Besar MTQ Kalsel
- Pemkab Kotabaru Gelar TAPTU dan Pawai Obor Meriahkan HUT RI ke-81
- HUT RI ke-81, Polresta Samarinda Bagikan 500 Bendera Merah Putih
- Kamaruddin Anggota DPRD Samarinda Angkat Bicara Soal Jalan Rusak di Pemukiman
- Jajaran Pemkab Kotabaru Ikuti Pidato Presiden Dalam Rangka HUT ke- 81 di Rapat Paripurna DPRD
- Kolaboasi Dinas PUPR Kotabaru Bersama KODIM 1004 Hasilkan Infrastrktur Jalan dan Jembatan
- Bapperida Kotabaru Siap Fasilitasi Promosi dan Kampanye Inovasi SKPD
- Perkuat Kinerja Birokrasi Pemkab Kotabaru Lantik Pejabat Administrator Dan Pengawas
Mengenal Wisata Religi Bumi Saijaan : Makam Raja Pulau Laut

Keterangan Gambar : Suasana makam Raja Pulau Laut, Sabtu (12/7/2025).
Kotabaru, Borneopos.com - Wisata ziarah ke makam Raja Pulau Laut yang berada di Desa Sigam, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu destinasi religi yang terus didatangi pengunjung. Lokasi ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh Dinas Pariwisata karena nilai historisnya.
Baca Lainnya :
- Pemkab Kotabaru Dukung Penuh Kebijakan Pemerintah, Ayah Antar Anak ke Sekolah0
- Eka Saprudin Resmi Jabat Sekda Kotabaru Usai di Lantik Bupati M. Rusli0
Di dalam satu bangunan beratap terbuka, terdapat tiga makam utama yang berdampingan. Ketiganya merupakan tokoh sentral dalam sejarah Kerajaan Pulau Laut, yakni Pangeran Djaya Sumitra, Pangeran Abdul Kadir, dan Pangeran Brangta Kusuma. Selain itu, di area yang sama juga dimakamkan beberapa anggota keluarga dan orang-orang dekat para raja.
Pangeran Djaya Sumitra dikenal sebagai pendiri Kerajaan Pulau Laut dan dinobatkan sebagai Raja Pulau Laut I. Setelah beliau wafat pada tahun 1864 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya, Pangeran Abdul Kadir, yang menjadi Raja Pulau Laut II. Pada masa pemerintahannya, terjadi arus kedatangan para pendatang dari Sulawesi Selatan, khususnya suku Mandar dan Bugis Bone.
Setelah Abdul Kadir wafat pada tahun 1875 M, kepemimpinan berlanjut kepada putranya, Pangeran Brangta Kusuma, sebagai Raja Pulau Laut III. Pada masa pemerintahannya, ia memindahkan ibu kota kerajaan dari Sigam ke Gunung Balinkar. Multikultural yang sudah terjalin di masa ayahnya tetap berlanjut hingga akhir masa kepemimpinannya selama delapan tahun. Ia wafat pada tahun 1889 M.

Sumaryono, salah satu juru kunci yang telah lama menjaga makam, mengatakan bahwa pengunjung selalu datang silih berganti, baik dari dalam daerah maupun dari luar seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Ia berharap pemerintah kabupaten bisa memberikan perhatian lebih terhadap pengelolaan kawasan makam. Kebutuhan dasar seperti alat kebersihan, perlindungan dari hujan, hingga biaya operasional seperti air dan listrik masih sering terkendala, terutama jika hanya mengandalkan isi kotak amal.
"Kalau melihat kotak amal tidak menentu hasilnya. Jadi dalam satu bulan sering kurang. Keperluannya itu untuk beli air, beli pulsa lampu, menyemprot rumput, dan sebagainya," ujar Sumaryono, Sabtu (12/7/2025).
Sementara itu, salah satu pengunjung, Agus Baitullah dari Majelis Al Isra Batulicin, yang datang bersama 15 orang rombongan, menilai makam Raja Pulau Laut sebagai aset budaya yang penting untuk dikenang.
"Mereka sudah berjasa untuk kemakmuran kemaslahatan masyarakat zaman sekarang. Perjuangan membela tanah air di masa penjajahan. Mudahan-mudahan, kita lebih mengenal bagaimana sejarah baik itu kerajaan maupun wali-wali Allah," tuturnya.(Ali)



Baca Lainnya :
- Operator Excavator Dinas PUPR Kotabaru Tenggelam Di Sungai Jupi, Tim Gabungan Lakukan Pencarian0
- Pemkab Kotabaru Matangkan Persiapan Sambut HUT Ke-750





.jpg)




