- Pemkab Kotabaru Resmi Tutup Turnamen Voli Perwosi Cup I 2026
- DPRD Kotabaru Dorong Pembinaan Atlet Lewat Perwosi Cup I 2026
- Wakil Ketua DPRD Kotabaru Apresiasi Turnamen Voli Antar Pelajar
- DPRD Kotabaru Pastikan Distribusi Solar Bersubdisi Tepat Sasaran
- Warga Tarjun Usul Paving dan JPU, Sahrani: Akan Diperjuangkan Hingga Terealisasi
- Sahrani Serap Aspirasi pada Reses di Desa Tarjun
- Gewsima Serap Aspirasi Warga Semayap pada Reses Tahap II 2026
- DPRD Kotabaru Apresiasi Kegiatan FBS 2026
- Dispora Kalsel Seleksi Wirausaha Muda Berprestasi, Dorong UMKM Berbasis Kearifan Lokal
- Duta Pepelingasih Kalsel 2026 Resmi Terpilih, Siap Jadi Agen Perubahan Pelestarian Lingkungan
Kolom | KARTINI, PERJUANGAN KETIDAKADILAN

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Apa substansi dari perjuangan Kartini? Tentu saja perjuangan tentang ketidakadilan. Segala yang mengakibatkan ketidakadilan, entah itu ekonomi, politik, sosial dan budaya, maka penerima dampak ketidakadilan yang utama adalah perempuan.
Baca Lainnya :
- DPRD Kotabaru RDP Besama Aliansi Buruh Kalsel, Bahas Soal Ketegakerjaan0
- Komisi Informasi Pusat Dorong Penguatan Hak Akses Informasi Publik0
Memperingati hari lahir Kartini, adalah mengenang sosok perempuan yang memperjuangkan kaumnya dari ketidakadilan.
Baju kebaya dan sanggul hanyalah simbol fisik dan bahkan aksesoris dari pakaian yang dikenakan Kartini, sedangkan yang substansi adalah perlawanan tentang ketidakadilan. Jangan hanya ramai pada simbol-simbol, sedangkan yang substansi justru marak di depan mata.
Percuma bila hanya kebaya dan sanggul yang memikat, sedangkan daya kritis, nalar, pemahaman, pemikiran dan pengetahuan, tidak pernah diasah untuk mampu mengangkat harkat, martabat, kedudukan, serta harga diri kaum sendiri.
Hari ini walau sudah 147 sejak Kartini lahir, masih ada orang ditolak bekerja karena dia perempuan. Dicekal menduduki jabatan politik karena dia perempuan. Dihambat kesempatannya untuk mengembangkan karir karena dia perempuan. Dan lain sebagainya. Lihat saja, dari sekian banyak jabatan politik, pemerintahan, hingga berbagai posisi struktural atau pun fungsional di berbagai lembaga, berapa gelintir saja perempuan yang diberikan kesempatan? Bahkan kalau ada PHK, maka perempuan sering kali menerima ketidakadilan, karena yang dipilih untuk di PHK terkadang jatuh pada perempuan.
Kartini melawan ketidakadilan dengan cara pendidikan. Memberikan kesempatan belajar dan sekolah setinggi-tingginya kepada semua kaumnya, agar mampu mengangkat martabat dan kedudukan perempuan. Walau dalam perjalanannya, Kartini sendiri dicekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dipaksa menjalani hidup berumah tangga. Seandainya waktu itu Kartini dibolehkan mengecap pendidikan yang lebih tinggi hingga ke Eropah, sebagaimana kaum laki-laki terdidik pada waktu itu, pastilah Kartini akan mampu mengangkat drajat kaumnya jauh lebih tinggi lagi.
Kartini tidak asyik dengan dirinya sendiri. Kartini lebih mementingkan nasib kaumnya. Bahkan Pramoedya Ananta Toer, menulis pesan tersirat dari perjuangan Kartini melalui satu kalimat yang menjadi judul bukunya, “panggil aku Kartini saja”, yang menggambarkan egalitarian, kesetaraan dan kesamaan hak serta martabat. Tanpa melihat status sosial, kekayaan, kedudukan dan jabatan apapun. Ketika kesetaraan sudah menjadi pondasi, maka keadilan terhadap perempuan akan terwujud.(red)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita KALSEL













