- Gubernur Muhidin Perintahkan Pelayanan Secepatnya untuk Korban Kapal Virgo Transport 8 yang Dirawat
- Genjot Kemajuan Daerah, Bupati Tinjau Pembagunan Jalan Tembus Jembatan Tanjung Serdang
- Gekrafs Binaan Disparpora Siap Promosikan Gula Aren Tirawan Kotabaru di CAEXPO 2026 China
- Pantai Risalo Tanjung Selayar, Tawarkan Keindahan Asri nan Alami
- Kadisparpora Kotabaru Dorong Kaum Muda Saijaan Lahirkan Karya Film
- Penutupan Pelatihan Paskibraka Kalsel 2026; Gubernur Titipkan Masa Depan Daerah, Bangsa dan Negara
- Gubernur H. Muhidin: Kalsel Perkuat Pilar Indonesia Merawat Kehidupan Beragama
- Sekdaprov Kalsel Pimpin Visitasi PKN Tingkat II Angkatan XVIII ke Jawa Timur
- Momentum Harjad ke 76 Kalsel, Gubernur H. Muhidin Berikan Berbagai Penghargaan
- Pamor Borneo 2026 Himpun LoI Investasi Senilai Rp64,45 Triliun
Kolom | KARTINI, PERJUANGAN KETIDAKADILAN

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Apa substansi dari perjuangan Kartini? Tentu saja perjuangan tentang ketidakadilan. Segala yang mengakibatkan ketidakadilan, entah itu ekonomi, politik, sosial dan budaya, maka penerima dampak ketidakadilan yang utama adalah perempuan.
Baca Lainnya :
- DPRD Kotabaru RDP Besama Aliansi Buruh Kalsel, Bahas Soal Ketegakerjaan0
- Komisi Informasi Pusat Dorong Penguatan Hak Akses Informasi Publik0
Memperingati hari lahir Kartini, adalah mengenang sosok perempuan yang memperjuangkan kaumnya dari ketidakadilan.
Baju kebaya dan sanggul hanyalah simbol fisik dan bahkan aksesoris dari pakaian yang dikenakan Kartini, sedangkan yang substansi adalah perlawanan tentang ketidakadilan. Jangan hanya ramai pada simbol-simbol, sedangkan yang substansi justru marak di depan mata.
Percuma bila hanya kebaya dan sanggul yang memikat, sedangkan daya kritis, nalar, pemahaman, pemikiran dan pengetahuan, tidak pernah diasah untuk mampu mengangkat harkat, martabat, kedudukan, serta harga diri kaum sendiri.
Hari ini walau sudah 147 sejak Kartini lahir, masih ada orang ditolak bekerja karena dia perempuan. Dicekal menduduki jabatan politik karena dia perempuan. Dihambat kesempatannya untuk mengembangkan karir karena dia perempuan. Dan lain sebagainya. Lihat saja, dari sekian banyak jabatan politik, pemerintahan, hingga berbagai posisi struktural atau pun fungsional di berbagai lembaga, berapa gelintir saja perempuan yang diberikan kesempatan? Bahkan kalau ada PHK, maka perempuan sering kali menerima ketidakadilan, karena yang dipilih untuk di PHK terkadang jatuh pada perempuan.
Kartini melawan ketidakadilan dengan cara pendidikan. Memberikan kesempatan belajar dan sekolah setinggi-tingginya kepada semua kaumnya, agar mampu mengangkat martabat dan kedudukan perempuan. Walau dalam perjalanannya, Kartini sendiri dicekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dipaksa menjalani hidup berumah tangga. Seandainya waktu itu Kartini dibolehkan mengecap pendidikan yang lebih tinggi hingga ke Eropah, sebagaimana kaum laki-laki terdidik pada waktu itu, pastilah Kartini akan mampu mengangkat drajat kaumnya jauh lebih tinggi lagi.
Kartini tidak asyik dengan dirinya sendiri. Kartini lebih mementingkan nasib kaumnya. Bahkan Pramoedya Ananta Toer, menulis pesan tersirat dari perjuangan Kartini melalui satu kalimat yang menjadi judul bukunya, “panggil aku Kartini saja”, yang menggambarkan egalitarian, kesetaraan dan kesamaan hak serta martabat. Tanpa melihat status sosial, kekayaan, kedudukan dan jabatan apapun. Ketika kesetaraan sudah menjadi pondasi, maka keadilan terhadap perempuan akan terwujud.(red)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250

.jpg)










