- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
- Pemprov kalsel Dorong Penyusunan RUU Kab/Kota untuk 4 Wilayah di Banua
- Ditengah Lesunya Ekonomi, Warga Kotabaru Harus Beli Air Bersih Rp. 120 Ribu per Tandon
- Pemkab Kotabaru Promosikan Wisata Alam Mamake Lewat Trail Run Tahura Sebatung
- Festival Akrab 2026, Pemkab Kotabaru Dorong Kreativitas Jadi Peluang Ekonomi
- Disparpora Kotabaru Gelar Diseminasi Edukasi Aplikasi Si AKRAB
- Pemkab Kotabaru Laksanakan Nusantara Creative Walk Serentak Bersama 17 Negara
- Disparpora Kotabaru Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Festival Akrab 2026
- GMPD Banjarbaru: Kejati Kalsel Jangan Pandang Bulu Soal Kasus Dugaan Korupsi Kepala BKSDA
- Polda Kalsel Kerahkan Ratusan Personel Amankan Aksi Demo di DPRD Kalsel
Calap Pasang Dalam, Menuju Lamas Sa-alamanan

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
- Persoalan Tanah, Ayah dan Anak Kompak Aniaya Korban Hingga Tewas Di Pangururan 0
- Kur Sumangat, 31 Tahun LK30
Banjarmasin, Borneo Pos - Tidak ada kosa kata banjir dalam kebudayaan Banjar, yang ada hanya “calap”, yang tinggi airnya tidak lebih semata kaki. Kalau pun lebih dari itu yang disebabkan rob, maka orang Banjar menyebutnya “calap pasang dalam”, dimana saat purnama besar tiba, air sesekali menggenangi lantai dapur atau pekarangan rumah, terutama yang tinggal di pinggir Sungai.
Sekarang kondisinya tentu jauh berbeda. Perubahan iklim sangat berdampak bagi Banjarmasin, yang geografisnya memang di bawah permukaan laut. Kota ini dibentuk secara alami dari delta-delta yang kemudian menjadi daratan.
Sungai, anjir, handil, dan saka, suatu kearifan cerdas pengendali apabila rob datang. Rumah-rumah dibangun berbentuk panggung, tidak menghilangkan fungsi rawa dan gambut sebagai resapan air.
Kemudian, budaya sungai tiba-tiba berubah berorientasi darat. Rawa dan bahkan sungai, diurug - ditinggikan dengan tanah, jadi jalan dan tanah lapang. Bangunan rumah tidak lagi panggung, namun “balapak” di tanah, karena rawanya ditutupi dengan cor semen.
Sungai jadi belakang rumah, hilang sama sekali menjadi dapur-dapur yang “bersatu padu”. Sungai jadi selokan, selokannya dibuat sekedar ada, sahibar proyek tahunan yang tambal sulam.
Sekalipun tidak ada Perda sungai, Perda rumah panggung dan Perda lainnya. Orang Banjar dulu hidup dengan kebudayaan sungai, sehingga sangat paham soal rob, soal calap pasang dalam, soal fungsi rawa, gambut, anjir, handil dan saka. Dengan kearifan itu, tidak pernah panik menghadapi air, sebab kebudayaannya memang berbasis sungai.
Sekarang, ketika semua orientasi menjadi “darat”, termasuk orientasi Pemko dalam membangun kota sangat berorientasi darat.
Maka jangan salahkan bila setiap tahun panik menghadapi rob – calap pasang dalam. Kalau orientasi darat diteruskan, maka tidak mustahil sebagai mana perkiraan banyak pakar, 2050 Banjarmasin tenggelam.
Tidak ada pilihan, kecuali Pemko mengalihkan orientasinya kembali kepada sungai, sebagaimana kebudayaan Banjar mengajarkan banyak hal tentang itu. Mulai dengan menggiatkan kembali normalisasi sungai, mendisiplinkan Perda rumah panggung – di mulai dari rumah dinas walikota, meminta restu pemerintah pusat agar Dinas Sungai dibolehkan, sebab Banjarmasin kota unik, letaknya di bawah permukaan laut, sangat membutuhkan satu institusi yang khusus menangani kelestarian sungai, agar kada “lamas sa-alaman”. (nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0














