- Anggaran Terbatas, BPBD Kotabaru Terapkan Strategi Kolaborasi Pentahelix Untuk Tangani Bencana
- 20 dari 22 Kecamatan di Kotabaru Terjadi Karhutla! Hanguskan 751,4 Ha, BPBD: Semua Telah Tertangani
- WALHI Kalsel Dukung Polda Ungkap Kasus Karhutla dan Aktivitas Alat Berat di Lahan Pascakebakaran
- Polda Kalsel: Laporan WALHI Kalimantan Selatan Sudah Masuk Tahap Penyidikan
- Dinas PUPR Kotabaru Sosialisasikan Permen PUPR No 1 Tahun 2023 di Hotel Grand Surya
- WALHI Kalsel Laporkan Dugaan Kejahatan Koorporasi Karhutla ke Polda
- Opini | Kemarau Ekstrem! Palak Asap dan Hujan Kalalatu
- Tahunan Menunggu Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Rt.6 Desa Semayap Gotong Royong Perbaiki Jalan
- Wabup Syairi Hadiri Malam Puncak Peringatan Hari Pramuka ke 65 di Siring Laut
- Paripurna DPRD Kotabaru Sampaikan 2 Raperda, Soal Kawasan Tanpa Rokok dan Pengelolaan BUMD
20 dari 22 Kecamatan di Kotabaru Terjadi Karhutla! Hanguskan 751,4 Ha, BPBD: Semua Telah Tertangani

Keterangan Gambar : Petugas saat memadamkan Karhutla.
Kotabaru, Borneopos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotabaru mencapai 1.521 kejadian selama periode Juli hingga Oktober 2026. Berdasarkan laporan rekapitulasi BPBD Kabupaten Kotabaru, Jumat (16/10/2026), luas lahan yang terbakar mencapai 751,4725 hektare, dengan seluruh luasan tersebut tercatat telah tertangani.
Baca Lainnya :
- WALHI Kalsel Dukung Polda Ungkap Kasus Karhutla dan Aktivitas Alat Berat di Lahan Pascakebakaran0
- Polda Kalsel: Laporan WALHI Kalimantan Selatan Sudah Masuk Tahap Penyidikan0
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotabaru, Hj. Melinda Ratna Agustina, menjelaskan perkembangan penanganan karhutla tersebut. Ia menyebutkan bahwa kebakaran telah terjadi di 20 dari total 22 kecamatan di Kabupaten Kotabaru.
“Karhutla ini menjadi perhatian kami karena kejadiannya tersebar di banyak kecamatan. Karena itu, penanganan dan pencegahan harus terus dilakukan agar kebakaran tidak semakin meluas,” ujar Melinda, Minggu (18/10/2026).
Sebaran kejadian karhutla meliputi Kecamatan Pulau Laut Tengah, Pulau Laut Timur, Pulau Laut Selatan, Pulau Laut Sigam, Pulau Laut Utara, Pulau Laut Barat, Pulau Laut Kepulauan, Pulau Sebuku, Pulau Laut Tanjung Selayar, Hampang, Sampanahan, Sungai Durian, Kelumpang Hulu, Kelumpang Hilir, Kelumpang Tengah, Kelumpang Utara, Kelumpang Barat, Pamukan Utara, Pamukan Barat, dan Pamukan Selatan.
Selain jumlah kejadian kebakaran, pemantauan juga mencatat 620 titik panas yang tersebar di 103 desa pada 20 kecamatan. Titik panas tersebut didominasi kategori confidence medium atau tingkat kepercayaan menengah, sehingga masih memerlukan pemantauan dan pemeriksaan lebih lanjut di lapangan.
Melinda menyebutkan, sejumlah wilayah mengalami intensitas kebakaran cukup tinggi, di antaranya Kecamatan Pulau Laut Timur, Pulau Laut Tengah, dan Pulau Laut Barat. Sementara itu, berdasarkan pemantauan titik panas, wilayah Sungai Durian, Sampanahan, dan Lakau turut menjadi perhatian.
“Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar. Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan dapat memicu kebakaran, terutama ketika rumput, semak, dan pepohonan dalam kondisi kering. Puntung rokok yang dibuang sembarangan juga berpotensi menjadi sumber api.
“Jangan membakar lahan sembarangan. Membakar sampah juga harus diperhatikan, apalagi saat kondisi lingkungan kering. Api kecil bisa membesar dan menjalar apabila tidak segera dikendalikan,” kata Melinda.
Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga kerugian ekonomi bagi masyarakat. Tanaman produktif, pepohonan, dan lahan yang menjadi sumber penghidupan warga berisiko rusak apabila terbakar.
“Kalau lahan sudah terbakar, masyarakat juga yang merasakan kerugiannya. Tanaman yang selama ini dirawat bisa rusak, bahkan sumber penghasilan ikut terdampak,” ungkapnya.
Asap yang ditimbulkan dari kebakaran turut mengganggu kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain mengurangi jarak pandang, paparan asap juga dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan.
Salah satu warga, Mahaliatul Hafizah mengungkapkan bahwa asap karhutla menjadi gangguan bagi warga yang harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang kurang nyaman. Ia berharap kebakaran segera ditangani agar asap tidak terus mengganggu masyarakat.
“Kalau asapnya terus seperti ini, tentu mengganggu kami yang setiap hari menghirupnya. Apalagi kalau asap semakin tebal, aktivitas di luar rumah juga jadi kurang nyaman,” ujar Mahaliatul Hafizah.
Ia berharap upaya pemadaman dan pencegahan terus ditingkatkan sehingga kondisi lingkungan kembali nyaman bagi masyarakat.
“Kami berharap kebakaran ini segera ditangani supaya asapnya berkurang dan tidak terus mengganggu warga. Mudah-mudahan kondisi udara bisa kembali lebih baik,” tambahnya.
Di sisi lain, BPBD Kotabaru terus melakukan upaya pencegahan melalui sosialisasi dan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta unsur terkait. Petugas juga melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat untuk mengingatkan bahaya pembakaran lahan dan mendorong warga segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Melinda menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya petugas. Kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan sembarangan dan segera melaporkan kebakaran menjadi bagian penting dalam mencegah api meluas.
“Pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh petugas. Kami berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan, tidak membakar sembarangan, dan segera melaporkan apabila melihat kebakaran,” tutup Melinda. (red/prdh)

Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita Kotabaru


1.jpg)

.jpg)





